“Hai orang-orang yang beriman, apabila orang-orang fasiq datang membawa berita kepadamu, maka periksalah lebih dahulu dengan seksama. Supaya jangan sampai mencelakakan orang lain, tanpa mengetahui keadaanya, Sehingga kamu menyesal akan kecerobohanmu itu “
(Al Hujurat Ayat 6)
“Hai orang-orang beriman! Janganlah hendaknya satu kaum mencela kaum yang lain, dengan bentuk apapun. Boleh jadi mereka yang dicela, lebih baik dari mereka yang mencela.”
“Hai orang-orang beriman! Jauhilah kebanyakan prasangka buruk. Sesungguhnya sebagian prasangka buruk itu, adalah dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain”
(Al-Hujurat ayat 11-12)
Sejarah saling menuding sesat terhadap satu kelompok oleh kelompok lain sudah sangat sangat lama bahkan sama tuanya dengan sejarah agama itu sendiri. Perpecahan antara Sunni dan syiah mengawali sejarah saling tuding tersebut dimana ulama sunni yang menyebut diri sebagai Ahlul Sunnah dan di dukung oleh penguasa zaman itu menuding sesat bakan kafir kepada saudaranya dari kalangan Syiah. Konflik sunni syiah bukan hanya persoalan keyakinan akan tetapi lebih dominan unsur politik dan kepentingan penguasa saat itu.
Budaya sesat menyesatkan itu sepertinya sudah menjadi penyakit kronis di kalangan ulama dengan alasan mencegah kemungkaran dengan serta merta menunjuk telunjuk dengan lurus mengarahkan ke muka orang lain dan dengan mudah menuduh SESAT.
Kemarin (26/5) berita mengejutkan datang dari Aceh Timur dimana para ulama di sana mengeluarkan semua Ijma’ (kesepakatan) yang menyatakan bahwa Tarekat Naqsyabandiyah yang di ajarkan oleh Prof. Dr. Kadirun Yahya MA M.Sc sebagai aliran sesat dan menyesatkan. Ulama juga menganjurkan kepada pengikut tarekat itu untuk segera bertaubat dan kembali ke jalan yang benar sesuai dengan aliran ahli sunnah waj jamaah. Demikian berita yang saya baca di sebuah harian lokal di Aceh.
Tengku Muhibuddin Waly yang juga sekaligus sebagai Mursyid Tarekat Naqsyabandi di Aceh membacakan hasil keputusan ulama se Kecamatan Darul Aman, Aceh Timur sebagai berikut :
“Setelah meneliti, mengkaji, dan mempertimbangkan, serta merujuk kepada Al Qur’an serta hadist, maka Tarekat Naqsyabandiyah yang mursyidnya Kadirun Yahya kami nyatakan tidak sesuai dengan aliran ahli sunnah wal jama’ah”.
Sangat menggelikan memang, karena yang menuduh sesat itu disamping sama-sama pengamal Tarekat Naqsyabandi juga sama-sama bermazhab Syafii dan otomatis sama-sama pengikut ahlul sunnah.
Ijma’ yang dimaksudkan dalam berita di koran itu jangan anda bayangkan seperti sebuah pertemuan yang seluruhnya di hadiri oleh ulama dan mengadakan musyawarah dengan sungguh-sungguh dengan memgeluarkan berbagai macam kitab dan pendapat-pendapat ulama dahulu sebagai berbandingan. Kejadian di Aceh Timur itu tidak lebih sebuah penghakiman massa. Seluruh masyarakat dari berbagai golongan dikumpulkan bersama orang-orang yang menyatakan diri sebagai ulama dalam acara yang mereka sebut sebagai Musyawarah Akbar Terbuka kemudian secara sepihak mengeluarkan keputusan yang disebut “Ijma’” bahwa Tarekat Kadirun Yahya adalah SESAT!
Tuduhan Menyakitkan
Selaku pengamal Tarekat Naqsyabandi, saya sangat menyayangkan sikap ulama di Aceh Timur terutama Tgk Muhibbudin Wali yang seharusnya bisa lebih bijak dan arif dalam menyikapi persoalan-persoalan tentang Tarekat. Beliau sebagai ulama tarekat yang disegani di seluruh Aceh seharusnya bisa menjadi jembatan penghubung antara orang-orang syariat dengan pengamal tarekat dan bisa menjadi pelindung para pengamal tarekat lain bukan malah menusuk dari belakang.
Ada beberapa tunduhan yang disampaikan kepada para pengamal Tarekat Kadirun Yahya dan mungkin tidak saya bahas disini secara mendetail karena tuduhan-tuduhan itu bukanlah fakta akan tetapi lebih kepada fitnah semata.
Menarik kita simak kesimpulan dari ulama di Aceh Timur : “Setelah meneliti, mengkaji, dan mempertimbangkan, serta merujuk kepada Al Qur’an serta hadist, maka Tarekat Naqsyabandiyah yang mursyidnya Kadirun Yahya kami nyatakan tidak sesuai dengan aliran ahli sunnah wal jama’ah”
Kalau mau di teliti seharusnya Tgk Muhibbudin Wali beserta ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Nanggro Aceh (MUNA), HUDA dan MPU kecamatan Darul Aman Aceh Timur juga meneliti pusat tarekat ini di Universitas Panca Budi dan surau-surau lain bukan hanya meneliti di satu tempat kemudian menetapkan hukumnya. Sekitar akhir tahun 1998 di depan Prof. Dr. Jamaan Nur (murid Prof. Dr. Kadirun Yahya MA M.Sc) Tgk. Muhibbudin Wali menyatakan bahwa terekat Kadirun Yahya adalah muktabarah dan kalaupun ada perbedaan dengan tarekat naqsyabandi yang diamalkannya ibarat makan nasi yang berbeda lauk pauk sedangkan nasinya sama. Lalu kenapa dibelakang menyatakan pernyataan yang berbeda?
Kalaupun ada diantara pengikut tarekat Kadirun Yahya yang mengeluarkan pernyataan aneh dan tidak lazim seharusnya yang disesatkan adalah pribadinya bukan institusi. Sama halnya kalau ada polisi mencuri bukan lembaga kepolisian yang dibubarkan akan tetapi oknumnya yang di tindak. Kalau ingin menjadi ulama yang baik, seharusnya Tgk. Muhibbudin Waly memanggil para pengamal tarekat kemudian memberikan arahan dan bimbingan serta menasehati pengamal tarekat Kadirun Yahya agar hati-hati dalam menyampaikan kajian hakikat kepada masyarakat awam. Tgk. Muhibbudin bisa menghubungi pimpinan tarekat Kadirun Yahya yang ada di Medan dan saling bermusyawarah serta menjelaskan duduk persoalannya. Bukankah murid-murid Prof. Dr. Kadirun Yahya MA, M.Sc sebagian besar juga ulama yang memiliki ilmu pengetahuan syariat Islam di atas rata-rata, salah satunya adalah Prof. Dr. KH. Jamaan Nur, Guru Besar IAIN Raden Fatah Palembang.
Tgk Muhibbudin Wali tahun 2002 pernah ikut dalam acara pertemuan tarekat serumpun di Universitas Panca Budi dan dari hasil pertemuan itu disimpulkan bahwa Tarekat Serumpun semuanya muktabarah dan tidak menyimpang dari ajaran Islam. Tarekat Serumpun adalah tarekat Naqsyabandi yang mursyidnya bertemu di silsilah Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabal Qubis Mekkah dan Tarekat Kadirun Yahya termasuk salah satu tarekat serumpun yang muktabarah.
Syekh Sulaiman Zuhdi mempunyai banyak murid di Indonesia antara lain :
-
Syekh Abdul Wahab Rokan yang di kenal dengan Syekh Basilam yang mendirikan perkempungan Tarekat Babussalam di Langkat Sumatera Utara.
-
Syekh Sulaiman Hutapungkut di daerah Sidempuan, Sumatera Utara. Salah seorang Murid Syekh Hutapungkut adalah Syekh Muhammad Hasyim Al-Khalidi dari Padang yang kemudian melanjutkan berguru kepada Syekh Ali Ridho di Jabal Qubais.
-
Syekh Ali Ridha di Mekkah yang kemudian meneruskan silsilahnya kepada Syekh Muhammad Hasyim Al-Khalidi di Buayan Sumatera Barat dan kemudian meneruskan silsilahnya kepada Syekh Kadirun Yahya MA. M.Sc Al-Khalidi.
-
Syekh Usman Fauzi di Jabbal Qubais yang meneruskan silsilahnya kepada Syekh Abdul Gani Batu Basurat di Riau dan kemudian meneruskan Silsilahnya kepada Abuya Syekh Muhammad Waly Al-Khalidy yang dikenal juga dengan sebutan Syekh Muda Wali di Labuhan Haji Aceh Selatan.
Abuya Syekh Muda Waly yang juga orang tua kandung dari Tgk. Muhibbudin waly mempunyai beberapa orang anak yang kesemuanya meneruskan misi orang tua mereka menyebarkan tarekat yaitu :
-
Tgk Muhibbudin Waly
-
Tgk. Amran Waly
-
Tgk. Jamaluddin Waly
-
Tgk. Muhammad Nasir Waly LC
Antara Abuya Syekh Muda Waly dengan Prof. Dr. S.S. Kadirun Yahya masih satu guru dan sama-sama berada pada urutan ke-35 di hitung sejak Saidina Abu Bakar Siddiq. Kedua Syekh ini bertemu pada Ahli Silsilah ke-32 yaitu Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabal Qubis Mekkah.
Kalau hari ini Tgk. Muhibbudin Wali menyatakan sesat kepada Prof. Dr. S.S. Kadirun Yahya itu sama dengan anda menyatakan sesat kepada diri sendiri karena ajaran tarekat yang beliau amalkan itu bersumber kepada satu Guru.
Kalau tulisan ini dibaca oleh Tgk Muhibbudin Waly atau salah seorang muridnya, saya ingin membuat sebuah permisalan. Misalkan suatu saat anda mempunyai banyak sekali murid dan meneruskan tarekat yang anda bawa dan murid anda pada generasi ke tiga saling menyalahkan dan menyesatkan, bagaimana perasaan anda?
Suatu saat murid dari Tgk. Amran Waly di Labuhan Haji mengeluarkan pernyataan sesat kepada salah seorang murid anda, bagaimana perasaan anda dan bagaimana sedihnya Abuya Syekh Muda Wali mengetahui hal ini.
Saya dapat informasi, Tgk. Amran Waly mengeluarkan pernyataan hakikat bahwa nabi Mumammad adalah wadah dari Allah dan orang-orang Aceh Utara yang awam sekali ilmu hakikat menyatakan Beliau sesat dan Tgk Muhibbudin Waly berdiam diri tanpa ada pembelaan padahal itu adalah saudaranya. Apakah anda juga ikut menyalahkan Tgk. Amran Waly?
Apakah pernah Abuya Syekh Muda Waly menyatakan sesat kepada orang lain?
Beliau tidak pernah menuduh orang lain sesat walaupun hampir semua pengikut Muhammadiyah menyatakan Beliau sesat bahkan kafir. Beliau adalah orang yang telah sampai kepada makrifat dan tentu saja tidak dengan mudah menyatakan orang lain sesat. Saya bisa maklumi kondisi Tgk. Muhibbudin Waly yang belum cukup ilmu untuk memahami rahasia-rahasia Allah.
Kalau Tgk. Muhibuddin ingin menjadi satu-satunya Mursyid tarekat di seluruh Aceh tidak harus dengan cara menginjak tarekat lain karena kalau sikap itu dipertahankan maka suatu saat anda akan disesatkan oleh orang lain.
Sesat Menyesatkan dan Konflik Berdarah di Aceh
Nurudin Ar-Raniry yang berasal dari Ranir India ingin sekali menjadi ulama nomor satu di Aceh. Salah satu cara yang dilakukannya adalah menyatakan sesat kepada ulama selain dia. Nurudin Ar-Raniry mengeluarkan pernyataan sesat kepada Hamzah Fanshury yang berpaham wahdaul wujud dan menfatwakan pengikut Hamzah Fanshury halal darahnya. Setelah Nurudin Ar-Raniry mengeluarkan fatwa sesat dan halal darah maka efeknya sungguh tragis dan memilukan. Hampir semua murid-murid Hamzah Fanshury di bunuh. Di depan mesjid raya Baiturahman, pengikut Hamzah Fanshury di bakar hidup-hidup beserta karya-karyanya. Akibat dari perbuatan itu, 100 tahun kemudian Belanda menyerang Aceh dan membakar habis mesjid Raya Baiturahman tanpa sisa dan Aceh melewati sejarahnya dengan berdarah dan konflik yang tak berkesudahan.
Apakah anda ingin menjadi Ar-Raniry di zaman ini?
Mungkin sebagian yang membaca tulisan ini tidak percaya hubungan antara tuduhan sesat menyesatkan dengan konflik di Aceh. Coba renungi fakta berikut:
-
Zaman Sultan Iskandar Muda hampir seluruh Aceh menjadi pengamal berbagai macam Tarekat, pengikut terbesar dari Tarekat Syattariyah yang mursyidnya adalah Syekh Abdul Ra’uf As-Singkily yang dikenal dengan Syiah Kuala dan merupakan keponakan dari Hamzah Fanshuri. Aceh mengalami kemajuan dan kemakmuran yang luar biasa. Kemudian pada masa Sultan Alaidin Iskandar Tsani (menantu Iskandar Muda) telah melarang tarekat secara resmi. Pemimpin Tarekat pada masa itu adalah Syamsudin As-Sumatrani (Wafat tahun 1630), murid dari Hamzah Fanshuri. Tgk. H. Abdullah Ujong Rimba dalam bukunya “Ilmu Thariqat dan Hakikat” menceritakan bahwa Ulama-ulama Aceh telah mengadakan musyawarah dibawah pimpinan Mufti Syekh Nurudin Ar-Raniry dan musyawarah memutuskan bahwa penganut tarekat dianggap kafir, murtad dan harus di bunuh mati. Menurut Tgk. H. Hasan Krueng Kale, seorang tokoh ulama di Aceh, pada masa itu telah terbunuh 70 orang penganut tarekat. Akibat tindakan itu Aceh seperti menerima azab dari Allah, diserang oleh Belanda, mesjid di Bakar dan konflik tak berkesudahan.
-
Majelis Ulama Daerah Istimewa Aceh, sebagian besar yang duduk disana adalah orang-orang berpaham wahabi mengadakan musyawarah Tanggal 3-8 November 1974 di Banda Aceh dan mengeluarkan fatwa antara lain bahwa Tarekat-terakat yang berkembang di Aceh saat ini pada prakteknya bertentangan dengan Syari’at Islam. Menyatakan sesat dan menyesatkan kepada pengikut Tarekat Mufarridiah yang diajarkan oleh Syekh Makmum Yahya berpusat di Tanjung Pura Langkat, Sumatera Utara. Setelah mengeluarkan sesat menyesatkan itu 2 tahun kemudian 4 Desember 1976 dimulailah konflik berdarah di Aceh sampai di cabut DOM tahun 1998.
-
Pada bulan Oktober 1998 Surau Panton Labu Aceh Utara milik yayasan Prof. Dr. SS. Kadirun Yahya MA M.Sc dibakar masa atas pengaruh beberapa ulama termasuk pernyataan Tgk. Muhibbudin Wali yang mangatakan sesat kepada tarekat Kadirun Yahya. Setelah Alkah Zikir Panton Labu di bakar tidak lama kemudian mulai lagi konflik berdarah di Aceh dengan episode yang lebih memilukan, di mulai dengan Tragedi Ara Kundo, Simpang KKA dan diikuti berbagai macam tragedi lain, ribuan nyawa melayang sampai masa damai sekarang ini.
-
Hari ini Tgk. Muhibbudin Wali beserta ulama-ulama yang terpengaruh oleh politik mengeluarkan peryataan sesat kepada Tarekat Kadirun Yahya, semoga Allah mengampuni dosa Tgk. Muhibbudin Wali beserta ulama lain dan segera menarik pernyataannya agar kelak generasi penerus Aceh tidak menyalahkan anda oleh bencana yang akan menimpa. Jangan sampai Azab Allah menimpa orang-orang yang tidak berdosa hanya gara-gara segelintir ulama.
Apa hubungan memusuhi orang-orang yang dikasihi Allah dan orang-orang yang ikhlas berzikir kepada-Nya dengan bencana?
Hal ini di terjawab dengan sebuah hadist qudsi :
“Barang siapa yang memusuhi Wali-KU akan KU nyatakan perang kepadanya” (HR. Bukhari)
Silahkan meneruskan permusuhan anda dengan orang-orang Tarekat dan kita hanya menunggu Allah menyatakan perang kepada anda dalam bentuk yang tidak pernah terbayangkan.
Penutup
Tuduhan sesat kepada Tarikat Kadirun Yahya menandakan kurang matangnya ilmu yang dimiliki oleh orang-orang yang mengaku ulama termasuk Tgk. Muhibbudin Waly karena persoalan Hakikat kalau dilihat dari kacamata syariat tidak akan pernah ketemu. Prof Dr. Kadirun Yahya telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk kepentingan ummat dan mempunyai murid jutaan orang di seluruh dunia dan menerima ilmu tarekat lewat jalur silsilah yang benar tentu sangat tidak bijak kalau setelah Beliau tiada kita menuduh tarekat Beliau sebagai tarekat sesat.
Saya kagum dengan ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Prof. Dr. Muslim Ibrahim MA, yang tidak pernah sembarang mengeluarkan pernyataan. Ketika orang menanyakan pendapat Beliau tentang tarekat yang disesatkan orang dengan senyum beliau menjawab : “Jangan mudah kita menuduh sesat kepada orang lain karena pertanggung-jawabannya bukan hanya di dunia akan tetapi juga di akhirat kelak di hadapan Allah. Hanya Allah yang mengetahui siapa sesat dan siapa benar”.
Semoga di Aceh akan banyak ulama-ulama arif seperti Prof. Dr. Muslim Ibrahim MA yang sangat bijak menyikapi setiap persoalan dan selalu berpihak kepada ummat bukan berpihak kepada kepentingan politik segelintir orang.
DIarsipkan di bawah: Info/Berita | Ditandai: Sesat, Tarekat, Ulama

Nampaknya ada lagi yg perlu mendapatkan penjelasan…..
Orang kok senangnya selalu mencari-cari perbedaan.
Mbok kalau kurang jelas bertanya, kalau kurang yakin ya sudahlah diyakini menurut hati nurani masing-masing.
Untung ada Sufi Muda….Alkhamdulillah
@ New
1. Kan Ibunya sudah mendapatkan ijin dari Suaminya
2. Dzikir sampai ribuan, memang ada batasannya…ndak tuh
3. Namanya aja Guru, ya harus kita hormati dan jaga nama baiknya dong
4.Kalau dari katanya..ya jangan percaya
5. Kata siapa meninggalkan sholat sunah Rawatib..ndak betul itu. Kalau tidak percaya ayo kita sholat berjamaah
bersama.
6.Kok tahu emang yang Goib itu Mistik..ya ndak lah ( Membicarakan Surga-Neraka,Kematian,Kebesaran Allah dan Makrifat..apa itu termasuk Mistik)
7.Siapa dulu Gurunya…
8.Baca lagi keterangannya yg jelas, siapa yg diumpamakan Chanel/listrik. Jangan dicampur aduk lho….
9.Biar nggak kesasar gitu lho
Ada berita lewat televisi suasta/Trans TV, bahwa pada tgl: 19 Agustus 2009 hari Rabu malam Kamis Jamaah Tarikat Naksabandiah di Padang-Sumatera sudah mengadakan Sholat Tarawih…..
Gimana tanggapan Abangda SufiMuda, apa benar berita itu…..Terus bagi saya harus bagaimana menyikapinya…mohon penjelasan….
sungguh ironis orang yang mengatakan sesat tarekat yang di bawakan oleh YML. Ayah guru, padahal yang mengatakan sesat adalah orang tarekat, yang yang bersumber dari satu guru yaitu dari syaidina Abubakar Sidiq, semoga ALLAH membukakan hatinya Tgk. Muhibbudin wali, …….
Bisa nggak sih orang yang bertarekat menyatakan bahwa orang-orang yang dianggap salah itu Insya Allah ada benarnya dan keyakinan kebenaran bertarekat mungkin ada salahnya.
Sesudah Rasulullah tak ada yang diikuti, karena semuanya pengikut Rasulullah biarpun ia seorang sahabat Rasulullah Abubakar Sidiq.
Menciptakan manusia berkelas-kelas saja sudah menggambarkan tarekatnya hampa (menyatakan diri Guru, Sufi Muda, dan sebagainya). Kemuliaan itu dalam kuasa Allah SwT, kalau kita mulia di mata manusia pada dasarnya aib sedang ditutupi Allah dari pandangan manusia lain.
dalam berkeyakinan kita harus sepenuhnya yakin bahwa keyanikan kita adalah benar – kalau tdk yakin yaa bukan keyakinan namanya bos. itu sich coba-coba yakin
tapi orang berterekat selalu mengedepankan adab-baik adab tdh mursyid-sesama jemaah-atau yang beda keyakinan.
selagi kita tdk mengkafirkan,mensyirikan, atau menganjurkan pecah belah bangsa – maka lanjutkanlah
Tidak ada orang yang tahu bagaimana keadaan didalam rumahku, kalau dia sendiri belum pernah masuk kedalam nya, dan
Tidak ada yang tahu sesat atau benarnya Tarekat yang Q pegang saat ini kalau belum pernah ataupun tidak pernah masuk kedalamnya.
TQ…………
masalahnya kami yang bertarekat sudah pernah tinggal di fase ‘tak bertarekat’ seperti anda sekarang.
Sedang anda belum berada di fase kami sekarang.
Mudah2an kita bisa lebih bijaksana dalam bertukar pendapat
Pernyataan happy hell di atas bukanlah pernyataan orang yang bertarekat. Orang bertarekat tidak boleh menyombongkan diri bahwa dirinya sudah mencapai tingkatan makom tertentu, ataua dengan istilah happy disebut fase. Orang tarekat justru berusaha mengikis kesombongan-kesombongan seperti itu, dan berusaha memberishkan hatinya dari segala kotoran yang tidak terpuji lainnya. Bahkan merasa dirinya sudah benar/baik saja pun dilarang dalam ajaraan tasawuf. Karena orang yang beribadah kemudian merasa dirinya sudah benar, itu lebih buruk dibanding orang yang belum beribadah tapi merasa dirinya berdosa.
menyombongkan diri kepada orang orang yang dholim adalah wajib, terutama kepada orang – orang salafy wahabi.
@tak bertarekat
apakah anda tidak meyakini secara penuh kepercayaan yang anda yakini saat ini??
pasti sangat yakin,begitu juga orang yang bertarekat…kalo gak yakin dengan apa yang kami kerjakan..kami gak akan tetap ada disini…anda pasti juga demikian…
Beli ketupat gulainya kari ayam.
Ayam sekarat di hujung danau.
Kini bertarekat awalnya pun kami awam.
Yang awam ngajak berdebat, Ga nyambung lah yaw…
bosen bisa nya hanya teori praktek nya tdk sesuai kenyataan
Hanya ahli permata yang bisa menilai permata. Kalau permata di berikan kepada orang Jahil alias dungu atau suku terbelakang sudah pasti dibuang begitu saja.
Pernyataan di atas pertama sekali diungkapkan oleh Muhammad Bin Abdul Wahab (pendiri wahabi) dan sering di kutip oleh pengikut wahabi/salafi. Sikap inilah yang menyebabkan mereka menolak mazhab yang sudah ada dan langsung mengambil ilmu dari hadist2.
Padahal para sahabat yang hidup sezaman dengan Rasul lebih mengetahui tentang Rasulullah dari pada kita yang hidup di akhir zaman ini. Membuang para sahabat dan ulama2 setelahnya sama dengan memutuskan rantai ilmu. Sikap inilah sebagai sumber utama KESESATAN WAHABI.
Salam
Ass…
Saya hanya ingin numpang bercerita….
Suatu ketika saya membaca sebuah buku berjudul “Relativitas waktu dan realitas taqdir” pengarangnya lupa lagi.
Pada saat membaca buku tersebut, tiba-tiba anak saya yang kecil nyeletuk, bapak lagi baca buku jam ya? saya lihat cover buku tsb, ternyata betul ada gambar jam nya, sebelumnya tidak saya perhatikan. Dengan sok bijaksana saya jawab ya! Karena emang dia belum bisa baca, jadi yang terlihat gambarnya saja.
Tak lama kemudian kakaknya datang sambil membacakan judul buku tersebut, karena kakaknya udah bisa baca, saya mengiyakan juga kakaknya.
Jadi semuanya bisa saya benarkan pendapat anak saya, karena saya faham “maqom” kedua anak saya berbeda sesuai “orbit pemikirannya” masing-masing.
Jadi, bagi yang bertarekat harus bisa memahami “orbit pemikiran” orang-orang yang “tak bertarekat” demikian pula sebaliknya. Anak saya tidak bisa menyalahkan pemikiran saya yang membaca isi bukunya. Demikian juga saya nggak bisa menyalahkan anak saya yang baru bisa “membaca” gambar sampul dan judul bukunya saja.
Kalaupun ada perbedaan pemahaman, hendaknya dijadikan sebagai sarana pembelajaran, bukan untuk memperuncing permusuhan. Jadikan sebagai rahmat dari-Nya yang mengajarkan manusia melalui perantaraan Kalam.
Wassalam
Kalo kita tidak mampu mencegah orang bemaksiat.
Yaaaaa
semoga saja kita tidak terjerumus pula kedalam pbuatan maksiat…
mari perbaiki diri kita semuanya
Mudah-mudahan ini bermanfaat….
http://abasalma.wordpress.com/2009/10/08/titipan-saudaraku-di-jalan-allah/
Alangkah jayanya Islam jika antar sesama pengamal thareqat bisa bersatu dan tidak menyesatkan pada pengamal yang lain.
Mari kita rawat jalan menuju Ilahi. Jangan sampai terhasut rayuan setan.
Kalau mau berbuat benar, masuk dulu ke dalamnya, baru menyatakan sesuatu. Sebab jikalau bertanya satu kali, maka akan timbul sepuluh pertanyaan.
Kalau kau ingin jawaban, laksanakan apa yang menjadi tugas rutinmu. Karena setiap pertanyaan pasti ada jawabannya.
Salam persahabatan dan jayalah Islam yang sebenarnya.
hai boleh gabung
SAYA PALING SUKA,KALAU SAYA TIDAK SUKA,ITULAH YANG PALING SAYA SUKAI!!
Wahai Saudaraku…nikmatilah apa yg sdh ALLAH SWT berikan kpd kita semua.Janganlah Saling Berdebat tentang perbuatan sesat menyesatkan atau memvonis seseorang itu sesat.Cukup IBLIS/SYAITHON yang hanya mempunyai/menyandang predikat kesesatan.
Kondisikan diri kita masing2 agar tidak menyandang predikat SESAT,apapun ajaran yg sdh kita dpt dari seorang guru(ulama) amalkanlah dgn sebenar2nya.Selama apa yg sdh kita pelajari tidak keluar dari jalur AL-QUR’AN & AS-Sunah SAW.
Orang bertarikat ujung-ujungnya makrifatullah. Jalan yang ditempuh harus landasannya Al Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Dalam makrifat kunci ada pada Dia-NYa, yang penting banyak berzikir, shalat sunat, puasa, dan akhlak dijaga. Ahli hikmah mengatakan perlu tahu rumus zikir ada dalam Al Qur’an + posisi mengingat + posisi menghadap + posisi ikhlas, kalau posisi ini sempurna akan muncul otomatis ilmu ladunni…Insya Allah.
Tharikat adalah minuman Rohani yang akan membawa Seseorang yg mengamalkannya mendapatkan kedamaian & kesejukan hati.
Kalimat-kalimat Tharikat adalah kalimat pilihan yg diambil dari AL-QUR’AN dan Do’a para Nabi oleh seorang SUFI yang melalui proses panjang sehingga membawa manfaat bagi dirinya.
Intinya adalah jalan menuju sebuah pengharapan mencapai ke-Ridhoan ALLAH SWT,bukan untuk berharap mendapatkan kedigjayaan atau pun karomah2 yg akan diberikan ALLAH SWT.
Bilamana demikian itu yg dicapai,sia-sialah orang tersebut dihadapan ALLAH SWT.Karena kesempurnaan suatu amalan adalah Ikhlash dalam perbuatan yang dikerjakan.
Banyak orang yg tdk mengerti apa yg mereka telah kerjakan,meskipun yg dikerjakannya adalah jalan kebaikan untuk mendekatkan diri kpd Sang Pencipta.
Kenalilah diri kita sendiri sebelum kita mendekatkan diri kita kpd ALLAH SWT,Siapakah AKU?
Pada dasarnya semua manusia sdh diberikan segala2nya dari ALLAH SWT.Melebihi bangsa JIN dan makhluk lainnya yang sdh diciptakan ALLAH SWT.
Setiap manusia diberikan beberapa indera yang jumlahnya ada 5 ,yaitu :
1.Indera Penglihatan
2.Indera Penciuman
3.Indera Pendengaran
4.Indera Perasa
5.Indera Peraba
Tetapi sebenarnya masih ada satu lagi yang banyak manusia lupakan dalam hal jumlah indera yang ada dimiliki manusia,yaitu INDERA SENSOR/PIKIRAN (OTAK),Mengapa?
Karena Otak merupakan penyempurna dari bagian indera yang ke-5 tersebut.Tidak akan mungkin kita bisa mengatakan bau sesuatu itu dikatakan busuk atau harum,kalau otak tdk mensensor aroma yang kita terima dari hidung,dan seterusnya.
OTAK adalah indera ke-6 yg dimiliki manusia dan dilupakan oleh dunia pengetahuan Anatomi Tubuh.
Sering kita menilai seorang yg mengetahui kejadian yg akan terjadi ternyata pada saat yang diperkirakannya itu benar adanya.Kemudian kita beranggapan bahwa orang tersebut mempunyai indera ke-6,atau orang tersebut diberikan kelebihan dari ALLAH SWT bahkan divonis sebagai wali.
Istighfar…
ALLAH tdk akan sembarangan memilih seseorang untuk menjadi wali,dan kita tdk bisa memvonis seseorang itu wali karena kejadian aneh yg telah diperbuatnya.
Istighfar…
Kita bisa menjadi apapun yg kita inginkan seperti orang lain,karena kita sdh diberikan indera ke-6 oleh ALLAH SWT.
Asah indera ke-6 kita untuk bisa memiliki apa yang kita mau sesuai dengan jalan Syari’at.
Sunan Kalijaga,Sunan Gunung Jati dll-nya tidak pernah berharap ataupun memohon kpd ALLAH SWT untuk menjadi Wali ditanah JAWA.
Tetapi ALLAH SWT percaya kpd mereka semua,karena gerak tubuhnya selalu menggunakan Indera Sensor/Pikiran sesuai Syari’at.Tidak hanya menggunakan indera ke-5 saja dalam tata cara mendekatkan diri kpd ALLAH SWT.
Wallahu’alam Bishawab
Assalamualaikium Sufi..
Bagus sekali Opini tersebut “Ulama Menyesatkan Ulama”. Saat ini kami (MPTT Abuya Amran Waly) yang berada di daerah Labuhanhaji Aceh Selatan tengah menghadapi suatu perselisihan antara sesama ulama di Aceh Utara. Mungki Sufi sudah tahu Berita tersebut yang sempat menggegerkan Serambi Mekah (Aceh). Kami meminta dukungan dari sufi maupun rekan-rekan / saudara-saudara untuk menyuarakan juga bergabung ke situs FaceBook “Dukung Abuya Syech H. Amran Waly dalam mengembangkan Tauhid dan Tasawuf”. Terima KAsih
Saudaraku…Nazoel
Saya dari Jakarta,sangat menyayangkan apa yang sedang terjadi ditempat saudara.Saya hanya mau sedikit menanggapi apa yang telah anda komentari pada blog ini.
Perdebatan para Ulama sdh sering terjadi dibelahan dunia manapun,sepatutnya kita sebagai orang yang beriman kpd ALLAH SWT hendaknya mendo’akan saja atas perselihan tersebut.Supaya perselisihan itu cepat reda dan kita sebagai murid dari salah satu Ulama tersebut hendaknya ber-i’tibar dari apa yang telah terjadi.
Perselisihan diantara para Ulama adalah Warna dari Islam itu sendiri,itulah kekayaan orang-orang Islam yang
sesungguhnya.
Dihadapan ALLAH SWT,bilamana perselisihan itu dikarenakan untuk kepentingan umat,ALLAH SWT maha tahu atas apa yang sesungguhnya mereka perselisihkan.
Kita sebagai murid dari salah satu Ulama tersebut hendaknya tidak membuat suasana menjadi parah,apalagi saling bermusuhan.
Kembalikan semuanya kpd ALLAH SWT,karena tidak sepatutnya manusia terus bermusuhan/berselisih.
Wassalam.