TUHAN JUGA MANUSIA?

TUHAN JUGA MANUSIA?

Satria**

 

Pengalaman pribadi ini saya tulis tidak lain karena rasa penasaran mendalam tentang Tuhan, mudah-mudahan sang SUFIMUDA dan saudara-saudara seiman saya yang lain memberikan tanggapan yang menyejukkan, agar iman tidak lagi tergoncang, saya membutuhkan bimbingan dan arahan. Pengalaman 7 tahun di pasantren ditambah 5 tahun di IAIN tidak mampu menjawab pertanyaan saya:

Dimana Tuhan?

bagaimana bentuk wajah-Nya?

Benarkah Tuhan itu seperti manusia?

Saya duduk di sebuah kafe di sudut kota Medan, kebetulan ada janji dengan seorang teman penganut Katolik yang taat, dia seorang pengusaha sukses, memiliki puluhan jenis usaha. Kami ngobrol akrab tentang banyak hal, disamping sebagai teman juga sebagai mitra bisnis, dia selalu tampil ceria penuh semangat, berkeyakinan teguh  dan semua yang dikerjakannya hampir tidak ada kegagalan, kalau saya malah kebalikannya.

Penasaran dengan sukses yang diraihnya, saya memberanikan diri bertanya apa kunci suksesnya, lantas dengan santai dia menjawab: “kunci sukses saya adalah dalam hidup ini saya punya keyakinan yang kuat terhadap Tuhan, bagi saya, Tuhan Yesus itu bukan hanya sekedar Tuhan yang disembah, tapi dia juga mempunyai sifat-sifat manusia, karena itu saya berkeyakinan bahwa apapun yang bisa dilakukan Tuhan pasti saya bisa melakukannya.

Selaku penganut Agama Islam yang (menurut saya) taat, sangat terkejut mendengar penjelasan dia, bagi saya Tuhan itu  adalah Maha Suci dari sifat-sifat manusia, Tuhan merupakan sesuatu yang tak terhingga jauhnya, sesuatu yang super, menghukum hambanya yang bersalah dengan neraka dan memberikan hambaNya imbalan surga, itulah Tuhan yang saya kenal dari kecil sampai sekarang. Tidak pernah tergambar dalam benak saya bahwa Tuhan itu berwujud manusia seperti pemahaman ummat Kristen, malah dari kecil saya diajarkan untuk mengejek Ketuhanan Yesus dengan berbagai sindiran, cacian dan anekdot-anekdot yang konyol. Ada sebuah guyonan tentang Yesus yang sering saya ucapkan ke kawan-kawan sesama Islam: “Yesus Kristus mengatakan, apa yang dilaut bisa dimakan kecuali kapal selam, karena terbuat dari besi” dengan memakai logat orang Batak.

Tapi tiap kali saya merenung tentang Tuhan setiap itu pula timbul kegelisahan jiwa, saya tidak bisa menjawab pertanyaan seorang Pastor saat berkunjung ke kampus saya (Fakultas Ushuluddin, IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh) dimana Tuhan anda?, bagai mana bentukNya?, saya tidak bisa menjawabnya, saya baca buku karangan Ahmad Deedat tentang debat Islam-Kristen, hati saya agak sedikit tenang, tapi pertanyaan tentang bagaimana Tuhan itu tidak saya temukan disana.

Dulu waktu kuliah saya merasa paling banyak tahu tentang agama lain, karena Fakultas Ushuluddin memang membahas tentang perbandingan agama, saya tidak yakin bahwa Tuhan itu seperti Yesus, Khrisna dan  Budha, tapi hati kecil saya mengatakan lain, lebih masuk akal Tuhan itu seperti Manusia ketimbang meyakini Tuhan yang Abstrak, Tuhan X, Tuhan yang dinamakan Allah tapi dimana? Apakah dia seperti tulisan Arab?

Pernah waktu kuliah saya hampir meninggalkan Islam, tapi karena tradisi Islam sudah melekat dalam diri saya sejak kecil, saya tidak berani, saya masih takut kalau nanti kalau pindah agama ternyata di agama lain itu salah, Allah menghukum saya sebagai seorang Murtad, walaupun jiwa terguncang karena tidak bisa ketemu Allah, saya tetap dalam Islam.

Tulisan ini sengaja saya kirim ke SUFIMUDA, mudah-mudahan berkenan untuk ditampilkan, sejak awal munculnya SUFIMUDA (saya ketemu dari mesin pencari google) saya telah mengikutinya, beda sekali dengan web atau blog sufi lainnya yang tidak mempunyai ruh tasawuf, SUFIMUDA beda sekali,  saya baca DOA SUFI MUDA jadi menangis, ketika saya membaca tulisan SURAT UNTUK ALLAH badan saya gemetar, dan tambah menangis, saya punya keyakinan kuat pasti sang SUFIMUDA adalah seseorang yang amat dekat dengan Tuhan, amat mengenalNya, mudah-mudahan asumsi saya tidak keliru.

Pengalaman pribadi ini saya tulis tidak lain karena rasa penasaran mendalam tentang Tuhan, mudah-mudahan sang SUFIMUDA dan saudara-saudara seiman saya yang lain memberikan tanggapan yang menyejukkan, agar iman tidak lagi tergoncang, saya membutuhkan bimbingan dan arahan. Pengalaman 7 tahun di pasantren ditambah 5 tahun di IAIN tidak mampu menjawab pertanyaan saya:

Dimana Tuhan?

bagaimana bentuk wajah-Nya?

Benarkah Tuhan itu seperti manusia?

 

 

 

 

** adalah Alumni Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, berdomisili di Medan

 

 

38 Responses to “TUHAN JUGA MANUSIA?”

  1. Alhamdulillah mas satria, anda tidak salah jika bertanya kepada mas Sufimuda. Karena apabila anda tertarik silahkan bergabung saja denga apa yg telah dikerjakan mas Sufimuda.
    Menjawab pertanyaan anda kl hanya dengan teori, sy yakin anda akan mengalami kebingungan kembali. Silahkan dipraktekkan dan diriset apa saja yg telah dikerjakan Rasulullah berguru kepada Jibril. Nah bgmn detailnya silahkan bergabung dg aktifitas yg dikerjakan mas Sufimuda. Selamat meriset dan mempraktekkan. Anda akan menemukan semua jawabannya dari anda mengerjakannya.
    Salam hormat kami dari saudara mas Sufimuda.
    Quantum illahi (PhD Student M’sia)

  2. @ satria
    Dimana Tuhan? Bagaimana bentuk wajah-Nya? Benarkah Tuhan itu seperti manusia?
    .
    Saya paham kondisi spiritual Anda, sebab hal itulah yang jg saya alami waktu SMA. Begini ya mas satria. Pertama, mengenai “dimana Tuhan”. Sebelum saya memberi jawaban pribadi, saya ingin mengatakan bahwa pertanyaan Anda sudah salah. “Dimana” berarti menunjukkan “tempat”. Nah, logikanya, jika Tuhan (yang notabene tidak terikat segala sesuatu) memerlukan tempat, berarti Ia dibatasi oleh “tempat” itu sendiri? Bukankah ini absurd, alias super mustahil? Lantas, bagaimana dong? Ingatlah, bahwa Tuhan itu “dekat”. Namun “dekat” disini bukan berarti Ia terkungkung oleh ruang dan waktu. Ia mengejawantah di alam semesta ini, hanya saja kita yg enggan memperhatikan dan memahaminya. Makanya, jangan terlalu terfokus pada hal2 yg sifatnya fisikal. Apakah jika udara tidak bisa dilihat, lantas kita beranggapan bahwa udara itu tidak ada, padahal kita bisa merasakannya?
    .
    Kedua, “bagaimana bentuk wajah-Nya?”. Ini pun pertanyaan yang lucu sebetulnya. Saya yakin Anda mengenal betul surah Al-Ikhlas, bahwa tak ada satu-pun yang setara dengan-Nya. Berarti Ia tak berwajah. Jangankan berwajah, seperti apapun Ia tak setara. Tolong, jangan menafsirkan kata “wajah Tuhan” secara literer (tekstual) belaka.
    .
    Terakhir, “benarkah Tuhan seperti manusia?”. Melihat background anda yang pesantren 7 tahun dan IAIN 5 tahun, adalah sangat mengherankan jika Anda punya pertanyaan sesempit ini. Mohon direnungkan kembali.
    .
    Salam,

  3. 7 tahun di pesantren …
    5 tahun di IAIN…
    ngapain aja mas…??? hehehe…just kidding..
    Tuhan juga manusia …. apa iya ..awas loh dibilang gila…
    Menurit gue bukan Tuhan juga Manusia..tapi…
    Manusia juga Tuhan..ato gmana.. yang mana yang bener tuh…Nabi Muhammad di badannya ada cahaya Tuhan..apa itu artinya…
    Kadang gue pikir-pikir…
    kalo agama selain Islam punya Tuhan yang turun ke dunia dalam wujud manusia..Kristen punya Yesus..Budha jg punya Shidarta Ghautama… Hindu jg punya..India punya…Islam gmana???
    makin bingung nih…tolong donk yang ngerti..pencerahannya…plizz..

  4. Salam Satria.

    Sungguh pengalaman yang menarik, pengalaman yang sesungguhnya dipunyai semua orang, mereka semua juga merasakan seperti apa yang saudara satria rasakan, tetapi semua yang lain membohongi diri mereka sendiri dengan memilih menjalani apa adanya tanpa perlu dipertanyakan, juga karena ketakutan mereka terhadap sekat-sekat agama yang tabu untuk mereka langgar (mereka anggap sudah ketentuan baku). tapi itu semua tidak saya temukan di saudara satria, saluuuuuut.
    pengalaman anda melebihi pengalamn seorang pemuda Indonesia bernama Ahmad Wahib, yang tidak percaya definisi Islam seperti yang terrtulis. dia mengatakan mesti ada definisi Islam menurut Ahwad Wahib, bukan definisi Islam 14 abad lalu. definisi Islam menurut Ulama, bahkan Definisi Islam menurut Quran dan Haditrs.

    Saudara Satria dan juga saudara Aris.

    Pengalaman Anda itu telah saya alami ketika saya kelas satu MAN Sabang (salah satu kota di Provinsi NAD).
    pertanyaan saya yang paling mengganjal pada saat itu, apa Iya TUHAN itu ghaib, tidak bisa dilihat, tidak bisa dijumpai dengan kasat mata, ahhh, ngak benar ini, gumam saya waktu itu. padahal waktu itu saya tergolong pemuda yang taan untuk ukuran pemuda waktu itu.

    Akhirnya saya meneruskan kuliah ke banda aceh dan saya masuk IAIN Ar-Raniry (leting 99) Fakultas S yari’ah Jurusan JInayah was Siyasah), berangkat dari tidak saya temukannya jawaban sejak dari kelas satu MAN tadi, akhirnya saya ingin menekuni dan mendalami pemahaman yang tidak biasanya, saya ingin sesuatu yang beda. say akhirnya menjatuhkan diri pada organisasi mahasiswa yang tergolong kiri, bukan kanan, dan ajaran yang pertama sekali saya terima dan tekuni adalag ajaran sosialis, lebih tepatnya kita sebut komunis, anda bisa bayangkan itu saudara satria. bahkan pada saat itu saya sempat Atheis, nisbi agama itu, Tuhan, ahhh, omong kosong, tidak real, fantasi.
    selanjutnya pemahaman yang saya kenal kemudian adalah Islam Liberal, menurut saya ini menarik, karena menampilkan sisi Islam yang berbeda. bahkan saya pernah membuat beberapa kali diskusi yang dengan diskusi iu saya dicap sesat dan kafir, dan tema-tema yang saya angkat adalah Islam Protestan, Apakah Islam itu sebuah Agama ? adakah kebenaran lain diluar Islam?.

    Akhirnya saya berkenalan dengan seorang teman dikampus, yang menantang saya berdebat, debat yang sangat hebat tentang makna tauhid yang sebenarnya, tentang TUHAN, Quran, Rasul, Malaikat, shalat, puasa dan sebagainya, pokoknya sama sekali tidak saya dengar sebelumnya, beda sekali. rasa penasaran saya semakin besar, siapa kawan ini, berani sekali dia berargumennya, tanpa takut dosa sedikipun, luar biasa menurut saya, ini keren, menarik, ada pencerahan.

    akhirnya saudara Satria dan Aris, melalui kawan tersebut, saya menjatuhkan pilihan saya pada tarekat, jalan tasawuf. luar biasa, AKHIRNYA MUARA PENASARAN DAN RASA KEINGIN TAHUAN SAYA TERJAWAB DISINI. semua rahasia-rahasia KETUHANAN dan agama terjawab disini, makan semuanya dari ibadah-ibadah yang dilakukan semua orang tan-pa kejelasan, saya temukan kejelasannya diini.

    Saudara satria.

    pertanyaan anda dimana TUHAN ?
    sudah tepat, pertanyaan anda itu tidaklah membatasi gerak TUHAN, seperti yang dikatakan mas Aris. yang jelas TUHAN dibumi. dan TUHAN itu tiak benar ada dimana-mana, enak saja ada dimana-mana, apalagi orang-orang yang tidak dikenal TUHAN, mana mau TUHAN singgah disitu. dan bagi MAs Aris, TUhan iu bertempat dan tempatnya itu ada pada qalbu orang mukmin yang tenang dan kalem. jadi Satria dan Aris, anda tidak perlu cari TUHAN dimana-mana. TUHAN itu memilih tubuh-tubuh tertentu untuk dia tempati, jadi tiak semua tubuh, apalagi tubuh-tubuh yang serakah dan selalu erhijab dengan yang namanya Syari’at. TUHAN itu tidak ada di ‘Arab satria dan aris, tak usah cari kesana, ngak mau TUHAN itu dikurung-kurung disana. dan bagi saya, Rasulullah yang merupakan kekasih Allah dan tubuhnya telah ditempati oleh Allah (apakah ada beda yang ditempati dengan yang menempati bung satria dan aris ? )pada saat itu, juga mesti ada pada jaman sekarang, dan kita semua harus berjumpa, agar kita yakin, bahwa ajarannya tidak pernah berubah. kalo tidak, enak sekali orang arab zaman dulu yang bisa berjumpa dengan Rasulullah sedangkan kita tidak. saya tidak mahu Islam yang seperti ini.

    Allah itu ada dibumi, bisa dilihat dengan kasat mata. ini hukum pasti bung satria, bagaimana anda bisa berenang dijakarta, kalo dimedan anda tidak bisa berenang. begitu juga dengan Allah, bagaimana anda bisa berjumpa diakhirat sedang didunia anda tidak pernah berjumpa. agama bukanlah untuk mereka-reka bung satria, tapi pasti, agama yang mereka-reka tanpa kepastian bukan agama, tapi imajinasi dan hayalan.

    Allah itu wajahnya ya seperti manusialah bung satria, mana mungkin seperti rusa, kambing, atau wajah lainnya. air yang masuk kegelas ya sepert gelas bentuknya, masuk kelaut ya seperti laut bentuknya, Allah begitu juga, ketika menempati tubuh kekasihnya (tertentu) ya seperti manusialah, ngak ada yang gahaib-ghaib agama itu, semua real, semua mesti sesuai dengan hukum dan akal manusia. dalam Al-Ikhlas sudah jelas ” Tidak seorangpun yang menyerupainya, kan “orang” yang disebut disitu. bukan, tidak “sekambingpun” yang menyerupainya. arti paling utama disitu jelas wajah bung aris, anda jangan tambah membingung-bingungkan umat, dengan tafsiran-tafsiran spekulatif yang tidak ada solusi, semua orang ingin solusi dalam bertuhan hari ini, termasuk seperti Bung Satria.
    kalau tuhan itu tak berwajah bagimana anda mengingatnya bung aris. berarti ketika anda shalat, ketika anda teringat perempuan berarti seperti itulah TUHAN anda ?.

    Wajjhtu wajhiya (kuhadapkan wajahku pada wajah Allah), kan jelas bahwa wajah Allah itu ada, kalau wajah Allah itu tidak ada, kemana anda hadapkan wajah anda itu, kedinding, ke Ka’bah, kesajadah, yang pasti-pasti aja bung Aris, jika menanggapi pertanyaan benarkan ALLAh SEPERTI MANUSIA SAJA ANDA BILANG SEMPIT. WAJARLAH JIKA SEMUA, TERMASUK BUNG SATRIA MENANYAKAN ITU. karena selama ini memang tidak ada jawabannya, termasuk anda yang tidak pernah memberikan solusi : ).

    wahai bung satria, benar adanya TUHAN itu seperti manusia, saya sendiri tiak maulah bertuhan pada kambing, dll. dulu saya selalu iri dengan agama-agama lain, yang punya TUHAN jelas, ada bentuknya. tapi manusia ini bukan manusia sembarangan bung Aris, satu-satunya dimuka bumi ini, cari dan temukan ini, maka anda akan mendapatkan semuanya. bagaimana kita bersaksi dalam syahadat jika tanpa melihat (aku bersaksi tia TUhan selain ALlah), saya tidak mahu bersaksi kepada apa yang tidak bisa saya lihat, ketika saya lihat rupanya itu ya seperti rupa yang saya kenal, lah, ya rupa manusialah, kan tdak mungkin alien bung satria dan bung aris, : ).

    demikian testimoni saya bung Aris, sekadar share pangalaman keberagamaan, saya sudah 3 tahun ditarekat, dimana sebelumnya sosialis dan atheis.
    semoga ada pencerahan, dan menurut saya SUFI MUDA ini adalah pilihan yang tepat buat anda bung satria, jangan arahkan ke yang lain, karena jika ditempat lain anda akan semakin bingung dan bingung, tanpa ada jawaban.

    T. Arif Hidayat Malik
    (jafarnovina@yahoo.com)

  5. Salam Saudaraku..

    Subhanallah sungguh pengalaman yang sangat menarik bagi mas Satria..
    dan sangat indah penjelasan dari saudara-saudara yang lain, mas aris, ada hamba’79 dan juga mas arif hidayat,

    dan semoga pengalaman saudara satria, menjadi sample bagi saudara-saudara lainnya, dan penjelasan-penjelasan yang telah diberikan dapat menjadi masukan bagi semua.,
    disini saya sebagai pembaca artikel-artikel tasawuf

  6. Assalamu’alaikum

    Dalam melihat artikel-artikel di sufimuda sy memiliki ketertarikan dalam mempelajarinya,

    Pada kajian TUHAN JUGA MANUSIA merupakan kajian yang sangat menarik, apalagi hal ini di alami langsung oleh manusia yang notabenenya ISLAM,
    masukan yang diberikan oleh mas arif hidayat malik sangat mengesankan, apalagi mas satria memiliki pengalaman pribadi dan juga mas arif hidayat malik yang juga memiliki pengalaman pribadi dan sama-sama saya melihat dengan background dari institut islam

    Disini sy memahami bahwasanya islam itu Universal, universal islam itu yang terkadang berbeda dilihat oleh berbagai umat manusia, ada yang melihat bahwa universal itu islam itu menyatakan dengan dapat membuat organisasi dan kepercayaan atau tafsir tersendiri-sendiri, dan dengan universal nya islam tersebut semakin banyaknya perpecahan dalam diri umat islam itu sendiri

    Mengapa sy memberikan kajian yang lain dari artikel ya….?
    sy menyatakan kajian ini sebagai bahan untuk artikel TUHAN JUGA MANUSIA, dimana sekarang dengan banyaknya kelompok-kelompok dalam islam yang semakin menambah kebingungan para manusia islam itu sendiri dikarenakan semakin banyak pula yang mengakui sebagai utusan TUHAN, mengakui Nabi, bahkan mengakui sebagai TUHAN,

    Syech Siti Jeenar di lihat sebagai orang yang sesat karena sebuah pernyataan yaitu ” Ana Al Haq”. saudaraku, jika kita nyatakan bahwa TUHAN JUGA MANUSIA, akan ada Syech Siti Jeenar selanjutnya yang dilihat sesat, bahkan…

    saudaraku, jika telah kau temui Al Haq, maka jangan kau berpindah, tetapkan hatimu saudaraku, maka akan kau jumpai TUHAN yang bernaung dalam Jasad Manusia…

    TUHAN bukan Manusia dan Manusia bukanlah TUHAN, namun dari pemahaman sy, TUHAN itu ghaib, seperti FirmanNYA yang di tafsirkan, “….. yang jangan kau pelajari dzat KU..” ini tegas dikatakan
    jadi bila telah kita temui al haq tersebut, maka akan tetap kita disitu dengan kebenaran..

    dalam tafsir lain dapat kita lihat, bahwa TUHAN menaungi umat NYA yang suci dan bersih dan TUHAN bernaung di situ,
    disini kita melihat jasad manusia yang di naungi TUHAN tentunya akan menyatu dengan manusia itu sendiri, pada hakikatnya, TUHAN itu ada dan bernaung dalam jasa Umat yang DIA kehendaki
    sebagaimana dalam firman TUHAN,”.. telah ku berangkatkan seorang hamba (Muhammad)..”
    dari firman ini dapat kita pahami bahwa hanya satu orang hamba yang dinyatakan oleh TUHAN jadi kita bukan hamba, (tentunya kita hamba menurut versi kita masing-masing saudaraku) dan hamba inilah yang telah berserta TUHAN dan ada TUHAN beserta hamba yang telah dipilihNYA, jadi ada TUHAN di dalam diri hamba tersebut.. jadi apakah sekarang ini ada hamba yang seperti itu… ? (sebuah pertanyaan besar)

    yang jawabannya sangat singkat “ADA”

    bila ada pertanyaan lanjutan., dimanakah DIA….?

    ini yang yang membutuhkan jawaban yang sangat panjang, yang InsyaALLAH akan kita lanjutkan bersama saudara-saudara semua, dan semoga sufimuda dapat memfasilitasinya…

  7. … ada yang kelupaan, salam kenal buat saudara semua.. :)

  8. Wa’alikumsalam.. habib :)

  9. saudara satria. saya salut akan keterbukaan saudara dalam mengungkapkan realitas dari pertentangan pemikiran yang ada dalam diri anda, kebanyakan orang yang punya pengalaman educate (7 tahun pesantren+5 tahun ushuluddin IAIN) seperti saudara pasti takut bertanya seperti itu, karena takut dianggap bodoh, stupid ato sebagainya…. padahal dia sendiri juga tidak mengerti.

    saya juga salut sama jafarnovina@yahoo.com dengan ulasan pengalaman pribadinya yang berani mengkalaim sudah menemukan jawaban atas pertayaan yang sama dengan saudara satria…. mudah-mudahan saya ato yang lainnya akan mengalami pencerahan yang sama bila mengikuti cara saudara :)

    saudara aris, maaf sebelumnya…. saya kecewa atas sikap saudara yang begitu cepat mengklaim ini salah, ato itu salah, pertantanyaan salah, ato jawabannya salah, soalnya saya jadi teringat kejadian di aceh abad 17 ketika nurudin ar-raniry mengaklaim hamzah fansuri salah dan sesat sehingga karena nurudin ar-raniry saat itu mufti kerajaan dia menggunakan kekuasaannya dengan menangkap hamzah fansury dan umatnya terus dibakar didepan mesjid raya beserta seluruh kitab-kitabnya. tak lama berselang kemudian syeikh abdurrauf as-singkily pulang ke aceh dari mekkah dan beliau diangkat menjadi mufti kerajaan mengganti nuruddin ar-raniry yang sudah kembali ke india, disini syeikh abdurrauf mengatakan apa yang terjadi sebelumnya pada masa nurudin arraniry seharusnya tak perlu terjadi…… dan menurut pengetahuan saya, syeikh abdurrauf yang kemudian dikenal dengan syiah kuala memiliki pengalaman (bertarekat) yang sama dengan hamzah fansury. dan juga syeikh samsuddin assumatrani..

    nah….. bagaimana dengan yang sudah dibakar hidup-hidup? terus kemana kita mencari kitab-kitabnya sekarang?, ………

    mudah-mudahan dari sekarang kita bisa menghindari diri dari mengatakan seseorang salah… sehingga tidak mengulangi kebijakan yang diambil oleh nurudin ar-raniry di aceh…..

    salam
    agam assumatrani

  10. saudara arris, T. Arif hidayat Malik dan habib memberikan komentar yang berbeda, tapi punya satu tujuan yaitu untuk mengungkapkan eksistensi Tuhan.
    Bila kita merujuk kepada sejarah seluruh pencari Tuhan melalui akal akan menemukan kebuntuan, kebingungan dan tergoncangkan jiwanya seperti yang dialami oleh satria. Dari beberapa email yang dikirim oleh satria kepada saya, ada satu kesimpulan saya ambil bahwa satria bukan tidak memahami agama, tapi sangat dalam pemahaman agamanya, malah di atas rata2 kemampuan orang banyak.
    Inilah yang dialami oleh Nabi Ibrahim ketika mencari Tuhan, Beliau beranggapan Matahari, bulan, bintang itu adalah Tuhan sampai Beliau menemukan yang sebenarnya.
    Imam Al-Ghazali tersentak saat menjadi imam Shalat disebuah mesjid, adik kandungnya Ahmad Ghazali menjadi makmum, selesai shalat dia menjumpai abangnya dan berkata: “kenapa abang dirakaat kedua tidak mengingat Allah? kenapa abang mengingat perempuan sedang haid?” (sebelum shalat Imam A-Ghazali memberikan pelajaran tentang haid kepada murid2nya, dan terbawa waktu shalat). mendapat pertanyaan seperti itu dari seorang adiknya yang tidak terlalu mendalam agama namun sudah mendalami tasauf sejak awal. Imam Al-Gazali berkata: “Tajam sekali bathinmu adikku, izinkanlah aku berguru kepadamu”.
    Nah mau memperlajari apalagi sedangkan Imam A-Ghazali sudah menjadi Guru Besar, sangat ahli dalam segala macam ilmu, kalau sekarang sudah profesor lah.
    Bersama adiknya bertahun-tahun tidak ada yang dipelajari selain melayani adiknya, mulai dari menyiapkan makan, menimba ari untuk mandi dan ambil wuhduk. Dan akhirnya disitulah imam Al-Ghazali menemukan pencerahan.
    Setelah itu Imam Al-Ghazali menulis kitab Ihya Ulumuddin yang amat terkenal, disitu ada cerita imam Al-Ghazali bermimpi berjumpa dengan Tuhan. Kalau kita mau kritis bertanya, Tuhan seperti apa yang datang dalam mimpi imam Al Ghazali tersebut.
    Nabi Ibrahim datang perintah mengorbankan anaknya lewat mimpi, kita bertanya lagi, Tuhan seperti apa yang menyampaikan pesan kepada nabi Ibrahim dalam mimpinya?
    Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak bisa dijawab dengan dalil, dengan logika akal, karena akal memang sangat terbatas kemampuannya. Maka Allah melarang menuju dia pakai akal ” Jangan kau pikirkan Zatku”. Cara menuju dia tidak lain adalah dengan berhampiran dengan orang yang sudah dekat dengan-Nya.
    Dalam hadist Qudtsi :
    “Adakanlah dirimu beserta Allah, kalau engkau belum beserta Allah maka adakanlah dirimu beserta dengan orang yang beserta Allah, niscaya dialah yang mengantarkan engkau kepada Allah)”
    Carilah kekasih Allah, pasti dia tahu dimana Allah

    Salam

  11. komentar agam assumatrani memang benar, sulit sekali menjangkau ilmu Hakikat kalau masih memakai Ilmu Syariat seperti kejadian Hamzah Fansuri. Pembunuhan terhadap Al-Halaj dan Siti Jennar bukan persoalan benar tidak, tetapi lebih kepada unsur2 politis.
    Sama seperti jaman sekarang, MUI pada awalnya hanyalah sebuah lembaga produk orde baru untuk mengekalkan kekuasaannya, kemudian menjadi tidak terkendali setelah orde baru tumbang, saya melihat pemerintah pun sudah tidak berdaya menghapi MUI yang dengan seenak memberikan stempel sesat kepada kelompok yang berseberangan dengan mereka.
    oke, kita tidak usah terlalu memikirkan MUI, masalah2 politik dan lain2, kita fokuskan ke masalah yang Maha Luar biasa yaitu TUHAN.
    Seluruh pencari akan menyerah kepada pertanyaan seperti yang ditanyakan oleh satria.
    pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh ilmu Tasawuf, dibawah bimbingan seorang Mursyid.
    Hamzah Fanshuri menjawab dalam pantunnya: “Pergi ke Mekkah mencari Allah, pulang kerumah bertemu Dia”.
    rumah yang mana dimaksud oleh Hamzah fanshuri tersebut? kalau menurut saya itulah QALBU orang mukmin yang lembut lagi tenang.
    Kalau arris menantang dengan pertanyaan: udara tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan .
    Saya kurang setuju juga, kenapa? udara tidak bisa dilihat bagi yang tidak mempunyai alatnya, dengan memakai microskop elektron dengan pembesaran jutaan x bisa dilihat bentuk atom dari Hidrogen, Oksigen, dan beberapa unsur penyusun udara, Nah!
    Allah?? tidak bisa dilihat bagi yang belum menemukan alatnya,
    semoga mendapat petunjuk
    Ilahi Anta Maqshudi Waridhaka Matslubi

  12. Ass.
    sy juga punya pengalama pribadi ttg pencarian Tuhan, lalu bacalah kidah Nabi Ibrahim alaihissalam ketika mencari Tuhan. cerita ini diabadikan Allah didalam Al-Qur’an

    1.pertama ibrahim menyangka MATAHARI adlh Tuhan,namun setelah tenggelam ia menyanka tdk mingkin Tuhan bisa hilangdan tenggelam

    2.kedua Ibrahim menyangka BULAN adlh Tuhan,namun setelah ia tenggelam dan terbenam ia menyangka bulan bukan tuhan

    Katakanlah Dialah Allah Yang Maha Esa (Ahad)
    Allah tempat meminta segala sesuatu
    Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan
    Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan DIA
    (QS.Al-ikhlas 1-4)

    Jadi Tuhan yg sebenarnya adalah ALLAH
    bukan versi tuhan menurut saudara kita kristian

    Rasakanlah kehadiran ALLAH, ketika kita bersujud ditengah malam, menangislah pada ALLAH, adukanlah semua permasalahan kita, ceritakanlah apa yang terjadi pada ALLAH. InsyaAllah ALLAH akan memberikan jawaban-jawaban-NYA berbentuk KETENTRAMAN HATI DAN KETENANGAN JIWA, DAN KEMANTAPAN IMAN, SERTA DENGAN JAWABAN TERKABULNYA DOA-DOA KITA.

    COBALAH kawan,…….InsyaAllah ALLAH akan menjawabnya.
    JANGAN RAGU DAN JANGAN BIMBANG
    SAYA SUDAH MENCOBANYA, saya punya pengalaman tentang ini, saya sering menangis ditengah malam dikeheningan malam, rasakanlah KESEJUKAN HATI ketika kita BERDOA pada ALLAH ditengah malam.

  13. Lalu BACALAH sumber asli Islam yakni AL-QUR’AN dan HADITS

    Pahamilah Isinya, dan Renungkanlah.
    Kemudian jika ada ayat-ayat yang memang kita tidak memahaminya bertanya kepada ahlinya yaitu Ulama yang memang mempunyai kapasitas keilmuan yang lurus.

    jika tidak bukalah buku-buku Tafsir Ibnu Hasyim, atau “fI Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutub atau Al-Azhar karya Buya Hamka.

    Buku-buku hadits bacalah “Syarah Hadits Imam Bukhari” yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan
    “Syarah Hadits Imam Muslimi” yang diriwayatkan oleh Imam Muslim

    InsyaAllah semakin kita belajar Islam semakin kita mengenal ALLAH RABB SEMESTA ALAM.

  14. Kemudian lihatlah CIPTAAN ALLAH, BUMI INI, LIHATLAH LAUT, BULAN, BINTANG, PANTAI, PLANET2, MANUSIA, TUMBUHAN, BINATANG…..

    Itu semua adalah TANDA-TANDA ADANYA ALLAH, ALLAH-LAH YANG MENCIPTAKANNYA,

    JADI ALLAH ADALAH RABB(PENCIPTA) alam beserta isinya termasuk manusia.
    DAN alam beserta isinya termasuk manusia ADALAH CIPTAAN ALLAH.

  15. dari judulnya memang udah seru banget, gue mo ngomentari alex, salam kenal, komentar nya kok datar banget ya? ulama yang lurus gmana? apa imam ghazali ga lurus? kalau menurut gue nich yang agamanya masih dikit, ulama itu ada yang cuma ngerti syariat aja : Ibnu taimiyah, muhammad bin abdul wahab, sayyid qutub, ibnu qayyim al jauziyah, sayid hawa.
    Kalau buya hamka, kebetulan gue orang padang, kayaknya tasauf beliau diragukan, ayah beliau penentang berat tasauf di padang, trus ada gosip buya hamka mati disantet, jadi mmm… susah juga ngomentarinya ya, jadi fitnah nanti.
    bung alex, semua orang kalau shalat malam pernah merasakan nangis, klu gue nich pernah nangis lama banget waktu shalat tahajut, karena pas gi diputusin pacar, trus ngadu ama Tuhan, bukan krn rindu Tuhan karena gue emang kagak kenal ama Dia, cuma ingat diri yang malang aza :-(

  16. Salam Kenal buat saudaraku., Alex ma Anggun.,

    memang sulit bila kita mentafsirkan dengan otak dan nalar, karena akan menghasilkan hayalan, bukanlah kekhusyukan.,

    bila kita mengkaji dan melihat bait-bait para ulama sufi, sangat jelas dinampakkannya., dinampakkan disini jelas digambarkan, dan digambarkan disini tentunya telah jelas dilihat.,

    bila satu hal pun tak jelas, dan jika di tafsirkan dengan otak dan nalar, tentunya akan menghasilkan sebuah hayalan, seperti saudara alex menyatakan bahwa

    “Rasakanlah kehadiran ALLAH, ketika kita bersujud ditengah malam, menangislah pada ALLAH, adukanlah semua permasalahan kita, ceritakanlah apa yang terjadi pada ALLAH. InsyaAllah ALLAH akan memberikan jawaban-jawaban-NYA berbentuk KETENTRAMAN HATI DAN KETENANGAN JIWA, DAN KEMANTAPAN IMAN, SERTA DENGAN JAWABAN TERKABULNYA DOA-DOA KITA.”

    dan dilanjutkan dengan
    “Kemudian lihatlah CIPTAAN ALLAH, BUMI INI, LIHATLAH LAUT, BULAN, BINTANG, PANTAI, PLANET2, MANUSIA, TUMBUHAN, BINATANG…..

    Itu semua adalah TANDA-TANDA ADANYA ALLAH, ALLAH-LAH YANG MENCIPTAKANNYA,

    JADI ALLAH ADALAH RABB(PENCIPTA) alam beserta isinya termasuk manusia.
    DAN alam beserta isinya termasuk manusia ADALAH CIPTAAN ALLAH.”

    bila terus kita melihat tanda-tanda yang tidak jelas, tentunya akan ada tafsir-tafsir yang berbeda nantinya.. memang agak sulit bila ditafsir dengan nalar..

    saudaraku… pahamilah tasawuf itu dengan kelembutan, kelembutan jiwa, berkumpul dalam hati, dengan hati yang lembut, selembut salju (masyaALLAH, ane sendiri belum pernah nyentuh salju, ni cuma perumpamaan, karena kata kawan-kawan yang udah nyentuh salju, katanya lembut… ) maka akan ada pencerahan yang hakiki., pencerahan yang hakiki yang memasuki hati diperlukan pembimbing rohani pewaris nabi, pertanyaan yang sangat besar….. SIAPAKAH PEWARIS NABI…? sang sufimuda telah pernah memuat sebuah artikel, yang salah satu intinya, “jika tak sampai ke Nabi, maka memadalah melihat orang-orang yang pernah melihat Nabi, jika tak sampai dengan mereka, maka carilah pewarisnya., tentunya disana ada Nur Nya.,

    begitulah singkat sedikit tidaknya., dan seperti saudari anggun nyatakan sangat masuk akal, menangis di saat tahajud, belum tentu karena kekhusukan akan tetapi terkadang karena sebuah kesedihan pribadi., saudariku… bila dengan putus pacar aja bisa menangis, tentunya bila telah menemui sang Pembimbing Sejati, akan menangis bukan karena putus pacar, akan tetapi karena cinta yang akan tumbuh secara alamiah dalam qalbu.

  17. Salam K’Satria & Saudara-Saudaraqu yang lain..

    Luar biasa & komentar-komentarnya seru banget…!!

    Kalau menurut aq, Tuhan itu harus dikenal betul oleh hamba-hamba yang mengakui akan keberadaanNya. Sejatinya, siapa yang telah mengenalNya, maka akan dapat MengingatNya.
    Kalau hamba tidak mengenalNya, mustahil akan mampu untuk mengingatNya.

    Coba ingat kembali sejarah turunnya Islam di tanah Arab. ketika para sahabat bersyahadat (Masuk Islam berhadap dengan Nabi Muhammad SAW), apa ibadah yang diperintahkan Nabi kepada mereka?
    Apa perintah Shalat..?
    Atau Puasa..?
    Atau malah berhaji..??
    Hayo Kak, bisa ingat sejarah itu khan..
    Perintah Shalat justru datang setelah proses isra mi’raj (Tahun Kesedihan) beberapa tahun setelah islam datang.

    tak lain yang Nabi ajarkan kepada para sahabat saat itu adalah Mengenal Tuhan.
    Ibadah mereka saat itupun adalah Mengingat Tuhan (Khafi / Hakikat)
    Baru setelah mereka mantap Mengenal & Mengingat Tuhan, turun perintah untuk mengerjakan ibadah Syariat seperti Shalat Dll..

    Berarti, amat rugilah ibadah yang dilakukan kalau tidak mengenalNya. karna otomatis ibadah yang dikerjakan bukanlah ibadah yang menginganNya..

    jadi wajar kalau banyak hamba yang melakukan ibadah tapi tidak mampu merasakan luar biasa nikmatnya ibadah tersebut.

    Bukankah dikatakan
    “Aqimishshalaata lidzikri..”
    (Dirikan Shalat dan atau untuk MengingatKu).

    Perjalanan Rohani K’Satria sebetulnya adalah perjalanan yang memang sudah didesain dengan sangat bagus oleh Tuhan itu sendiri. Kenapa?
    karena proses perjalanan manusia adalah proses untuk mengenal Konseptor Skenario pembuat perjalanan itu sendiri yang tak lain & tak bukan adalah Tuhan.

    Pertanyaan-pertanyaan K’Satria adalah pertanyaan untuk dapat Mengenal Tuhan.
    Aq bantu semampunya ya Kak..

    Dalam diri Manusia ada 3 Dimensi Yang menyatakan ciri sebagai seorang hamba ;
    1. Dimensi Jasad (Jasmani / Lahiriah)
    2. Dimensi Otak (akal)
    3. Dimensi Ruh (Ruhani / Batiniah)

    2 Dimensi yang Menyatakan keutuhannya yaitu Dimensi Jasad & Dimensi Ruh.
    Apabila Jasad tanpa Ruh, itu yang kita sebut Mayat / Jenazah
    Apabila Ruh tanpa Jasad, itu yang kita sebut Arwah.

    Sesuai dengan tingkatannya, Dimensi Ruh Menduduki tingkat paling tinggi, disusul Dimensi Otak lalu Dimensi Jasad.

    Apabila Manusia mencoba mengenal Tuhan dengan Dimensi Jasad, maka Sulit untuk Mencapainya. karna Jasad mempunyai banyak keterbatasan & mengalami perubahan (dlm hukum sifat dinyatakan tidak tetap). makanya apabila ibadah hamba sebatas jasad, Mustahil ia akan merasakan Khusyuk / nikmatnya ibadah tersebut. Begitu pula jika Manusia menggunakan Dimensi Otak atau Akal, Mustahil ia akan dapat menjangkau eksistensi Tuhan yang sebenar Tuhan. Karena Dimensi akal juga mempunyai keterbatasan atas pengetahuan yang belum, akan atau sudah diterima. dia akan lebih bersifat Imajinasi atau Khayalan.
    Alasan berikutnya kenapa Dimensi akal tidak akan dapat menjangkau Tuhan adalah dikarenakan ada Dimensi Yang lebih tinggi dari Dimensi akal itu sendiri, yaitu Dimensi Ruh / Ruhani.

    Fokus pada Dimensi Ruh adalah Memaksimalkan semua Dimensi yang ada dalam tubuh manusia.
    Jadi, untuk dapat mengenal Tuhan K’Satria gunakan Dimensi Ruh dengan memaksimalkan semua potensi Dimensi yang ada.
    Tahap pertama, K’Satria harus dapat Mengenal terlebih dahulu semua Dimensi dalam tubuh K’Satria.
    Kalau sudah dapat mengenal, maka K’Satria akan dapat mengetahui cara Kerja untuk Memaksimalkan potensi tersebut.
    Bukankah dikatakan
    ”Man ‘Arofa Nafsah, Faqod ‘arofa Rabbah..”
    (Siapa yang dapat Mengenal Dirinya, Maka ia akan dapat mengenal Tuhannya).
    Bagaimana cara agar dapat Mengenal Diri?
    Carilah guru tasawuf / sufi. itu jawabannya Kak.

    Lam Kenal buat Saudara Fillah T.Arif Hidayat Malik
    dari saudaramu di (mafaza_ql@yahoo.co.id)

  18. higita cahaya salwa, terimakasih atas kunjungan dan komentarnya
    salam kenal,
    mudah2an akan memberikan pencerahan kepada satria dan pengunjung lainnya. Memang Allah telah memberikan konsep beragama kepada ummatnya: “awaludinni makrifatullah: artinya “awal beragama adalah mengenal Allah”. Harus mengenal Allah terlebih dahulu baru menyembahNya, kemudian baru mengabdi kepada-Nya lewat ibadah dan seluruh aktifitas hidup. Seluruh aktifitas hidup disertai-Nya, selalu bisa menyeksikan wajah-Nya disetiap saat, setiap detik dan selalu, selamanya….
    Tepat sekali apa yang disebut dalam Al-Qur’an, ” Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Meha Mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah 115)

    Kenapa setiap kali kita mengemukakan sebuah ayat Al Qur’an selalu ada penafsiran berbeda? karena memang Al Qur’an itu mempunyai makna yang sangat dalam dan bisa menjadi banyak sekali penafsiran. misalnya tentang “wajah Allah” dari ayat di atas.

    Sebuah qiyas/analogi kami kemukakan disini bahwa tulisan seorang profesor tidak akan bisa diartikan oleh anak SD walaupun dia bisa membacanya, anak SMA pun yang amat mahir membaca juga bisa salah mengartikannya. Untuk mengerti makna yang sebenarnya haruslah setingkat profesor, mesti kita tanyakan kepada sang profesor.

    Hanya Allah yang mengetahui makna sebenarnya dari Firman-firman-Nya dalam Al-Qur’an, kalau ditafsirkan secara otak kita akan jauh sekali melenceng, maka… temukanlah Allah! makrifat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan petunjuk/ilham tentang makna yang sebenarnya.

    Salam

  19. salam buat semua kawan-kawan pengunjung sufimuda yang komentar-komentarnya sangat mencerahkan.

    disini saya hanya ingin menambahkan sedikit :

    SAYA PRIBADI BUKANLAH ORANG MEMBENCI SYARI’AT. SYARI’AT ITU ADALAH ATU TAHAPAN UNTUK DILEWATI, IBARAT ORANG SEKOLAH, DARI D, PASTI KE SMP, SMA, TERU KULIAH. AGAMA JUGA SEPERTI ITU. ADA TAHAPAN LAIN SETELAH SYARI’AT YANG HARUS DILALUI, KALO SEMUA UMAT ISLAM INGIN ADA PENCERAHAN, DAN ADA JAWABAN TERHADAP SEMUA PERTANYAAN2 AGAMA YANG TABU, TERMASUK TENTANG TUHAN. TAHAPAN ITU ADALAH SYARI;AT, TAREKAT, HAKIKAT, MAKRIFAT. SETELAH KITA MAKRIFAT SYARI’AT ITU LEBIH HIDUP, LEBIH BERARTI, KARENA KITA UDAH TAHU EMUA HAKIKAT SYARI,AT (SHALAT, PUASA, HAJI, IBADAH2, DLL). SEKARANG, SAYA YAKIN, 100% UMAT ISLAM ITU PUSING, BANYAK MEREKA-REKA, SPEKULATIF, KARENA BELUM TAHU MAKNA, DAN HAKIKAT ITU TIDAK PERNAH BISA DIPAHAMI DENGAN SYARI’AT, KECUALI DENGAN JALAN TAREKAT. KARENA SEMUA INGIN MEMAHAMI HAKIKAT KETUHANAN DAN IBADAH2 DGN SYARI’AT, MAKANYA UMAT ISLAM NGAK MAJU2, ASYIK SESAT MENYESATKAN, HANYA BERKUTAT PADA ITU2 SAJA.

    SEBENARNYA INTI DAN HAKIKAT AGAMA ITU SATU, “TUHAN”. TIDAK ADA ISLAM ITU, ISLAM HANYALAH KULIT, BAGIAN LUAR. BUAT APA ISLAM, KALAU TUHAN TIDAK BISA BERJUMPA. APA ISLAM ITU HANYA UNTUK MEMBINGUNG2KAN UMAT SAJA, HAPUS SAJA ISLAM DARI PETA AGAMA-AGAMA DUNIA. “AWALUDINI MAKRIFATULLAH : (AWAL BERAGAMA ADALAH MENGENAL ALLAH), NAH KALAO BELUM KENAL ALLAH, APA SUDAH BERAGAMA. MASAK DENGAN YANG PUNYA AGAMA TIDAK KENAL DAN BERJUMPA, YA, MAKAN-MAKAN AJA KULIT AGAMA ITU TANPA MAKNA. HARI GINIIIIIIIIIII, MASIH BELUM JUMPA TUHAN, AHH, MALUUUUUUUUUU, KALAH TERTINGGAL DENGAN YANG LAIN.
    KALO BELUM BERJUMPA ALLAH, KITA TIDAK AKAN PERNAH TAHU DAN YAKIN KEBENARAN AGAMA. SETELAH BERJUMPA ALLAH, BARU KITA TAHU POWER DAN KEKUATAN ISLAM ITU SEPERTI APA. KALO BUNG SATRIA, SUDAH JUMPA DENGAN ALLAH, SAYA YAKIN, DIA AKAN LEBIH SUKES DALAM SEGALA HAL. KARENA APA, TUHAN YANG DIEMBAH ELAMA INI NGAK JELAS, PUNYA KEKUATAN TIDAK ?. JUMPA ALLAH DULU, BARU BUKTIKAN. ALLAH ITU LUAR BIAA POWERNYA, KALO NGAK BERPOWER, SAYA PUN NGAK AKAN NYEMBAH, BUAT APA EMBAH TUHAN KALAHAN. : )

    LAIN KALI KITA SAMBUNG LAGI, sMOGA ADA PENCERAHAN.

  20. sungguh saya tidak menyangka keluhan hati ini mendapat tanggapan nan menyejukkan dari saudara-saudara saya seiman seakidah, trimakasih banyak.

    Jujur, Saya tidak memerlukan logika, dalil-dalil telah membuat kepala saya panas, ayat-ayat telah memuat saya penat, kalau ada yang mengatakan tanda adanya Tuhan dengan melihat alam… sudahlah….dari jaman nabi adam alam ini memang sudah ada dan akan terus ada sampai kiamat, saya tidak mau alam, saya mau Tuhan

    Saya hanyalah seorang hamba yang mencari Tuhan, itu saja, mudah2an yang Maha Rahman dan Maha Rahim mengampuni sikap saya ini.
    Salam kenal untuk T. Arif Hidayat Malik, kalau anda letting ‘99 di IAIN, mungkin kita tidak saling kenal karena tahun itu pula saya diwisuda di kampus tercinta, tapi saya salut dengan pemikiran anda, umur bukanlah ukuran, saya harus menempuh cara yang anda tempuh agar saya menemukan buktinya.

    Sekali lagi terimakasih untuk semua, Terutama kepada sufimuda, dari petunjuk-petunjuk yang dikirim oleh sufimuda ke email saya hambasatria@gmail.com, saya menemukan titik terang walaupun masih samar-samar :-)
    Akan saya coba ikuti seperti kata sufimuda, mudah2an nanti benar, saya coba tempuh metode 40hari, 100hari, 1000hari, sebagai syarat berjumpa dengan-Nya. Pasti sufimuda, saya akan coba….
    sekali lagi trimakasih

  21. Hai semuanya..

  22. kalau boleh saya tambahin.. sebenarnya tuhan itu gak bisa dijumpain…

    perumpamaan seperti ini .. president tak akan pernah dapat kita jumpain… namun SBY pasti dapat dijumpain..

    jadi yang dapat kita kenal sifat,zat adalah Allah…
    “Dia yang awal, Dia Akhir, Dia yang jahir, Dia yang bathin” jadi dimana yang Jahir itu…

    “apabila hamba ingin berjumpa dengan Tuhannya, hendaklah beramal sholeh dan jangan duakan dalam ibadah apapun”

  23. Sangat setuju dengan ahkyar lubis, salam kenal

  24. Akhyar, yang zahir itu ada dalam hamba-Nya,
    “telah Kuciptakan rupa-Ku sebagaimana rupa hamba-Ku”
    simak ucapan Nabi Muhammad SAW
    “Ana Ahmadun Bila Mim”
    “Ana ‘Arab bila Alif”
    Nah!!! ketemu kan?
    :-)

  25. :-)

  26. Daripada kalian semua pusing memikirkan keberadaanNya, ingat-ingatlah apa yang telah Ia anugrahkan kepada kita semua. Sadarilah dengan semua ni’mat dan karunia dari Nya, seharusnya kita malah makin yakin akan keberadaanNya. Bila masih penasaran ingin tahu dimana Dia, tanyakanlah kepadaNya secara langsung dengan cara berkomunikasi denganNya secara langsung di tengah malam sunyi (Tahajjud), tapi metode ini tidak ada gunanya bagi yang tidak percaya akan KeagunganNya. Ingatlah bahwa Dia tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang kufur. Jadi kunci untuk mencari keberadaan Tuhan adalah iman (percaya) adanya Tuhan dan berserah diri kepadaNya. Sesungguhnya Tuhan bukanlah catatan sejarah yang terjilid dalam ribuan kitab. Dia adalah Awwal sekaligus Akhir.
    Allahu Akbar……
    http://economatic.wordpress.com/

  27. Terima Kasih ya Allah,
    Pemahamanku makin bertambah jelas dan pasti mengenai Wujud dan JahirMu.

    Terima Kasih ya Rasulullah,
    Mohon perkenankan aku terus belajar menjadi bagian dari umatMu yang hanif dalam mencontohMu.

    Terima Kasih ya Maha Guruku,
    Tlah Kau ijinkan aku menautkan tali padaMu, menuntunku mensucikan dzatNya, tuk bersimpuh dikaki Pemilik langit&bumi.

  28. Mengenai topik ini saya merasakan ketidakpuasan para ‘pencari tuhan’ atas apa-apa yang dia peroleh dalam ‘petualangan’nya, dan akhirnya sudah merasa menemukan ‘jawaban’nya yaitu melalui thoriqoh atau tasawuf. tapi menurut saya ‘petualangan’ jangan berhenti di situ, harus tetap dilanjutkan sampai ajal menjemput.

    Bagi saya alangkah bahagianya ketika anak kita bertanya dimanakah Allah? kita menjawab di mustawa anakku …

    Abbas dan Abu Habbah al-Anshari berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Jibril lalu membawaku naik sampai jelas bagiku Mustawa. Di sana, aku mendengar goresan pena-pena…(Shahih muslim 193 dan 194)

    Kemudian bertanya lagi dimanakah mustawa? kita menjawab diatas arsy anakku…

    Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia.(QS Al Furqaan : 59)

    kemudian bertanya lagi dimanakah arsy? kita menjawab diatas langit yang tinggi anakku…

    dari sahabat Mu’awiyah bin Hakam as Sulami, ia berkata:
    Aku punya seorang budak yang biasa menggembalakan kambingku ke arah Uhud dan sekitarnya, pada suatu hari aku mengontrolnya, tiba-tiba seekor serigala telah memangsa salah satu darinya -sedang aku ini seorang laki-laki keturunan Adam yang juga sama merasakan kesedihan- maka akupun amat menyayangkannya hingga kemudian akupun menamparnya (menampar budaknya, pent.), lalu aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kuceritakan kejadian itu padanya. Beliau membesarkan hal itu padaku, aku pun bertanya, “Wahai Rosulullah apakah aku harus memerdekakannya?” Beliau menjawab, “Panggil dia kemari!” Aku segera memanggilnya, lalu beliau bertanya padanya, “Di mana Allah?” Dia menjawab, “Di langit.” “Siapa aku?” tanya Rosul. “Engkau Rosulullah (utusan Allah)” ujarnya. Kemudian Rosulullah berkata padaku, “Merdekakan dia, sesungguhnya dia seorang mu`min.” (HR Muslim)

    sedangkan tentang ayat
    “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS Al Hadid: 4).
    Imam Sufyan ats Tsaury seorang tokoh tasawuf, Beliau menjawab, “yakni ilmuNya.”

    Sudah jelas jawaban dimanakah Allah berdasarkan petunjukNya sendiri yaitu diatas arsy diatas langit diatas semua makhluk2nya.

    Tentang wajahNya saya belum bisa menemukan dalil-dalinya.

    ————————-
    Hanya Allah yang mengetahui makna sebenarnya dari Firman-firman-Nya dalam Al-Qur’an, kalau ditafsirkan secara otak kita akan jauh sekali melenceng, maka… temukanlah Allah! makrifat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan petunjuk/ilham tentang makna yang sebenarnya.
    ————————-
    Tepat kutupat mas sufimuda kita klop amplop…dan juga yang ini
    —————————-
    “jika tak sampai ke Nabi, maka memadalah melihat orang-orang yang pernah melihat Nabi, jika tak sampai dengan mereka, maka carilah pewarisnya., tentunya disana ada Nur Nya.,“jika tak sampai ke Nabi, maka memadalah melihat orang-orang yang pernah melihat Nabi, jika tak sampai dengan mereka, maka carilah pewarisnya., tentunya disana ada Nur Nya.,
    ——————————-
    Inilah para sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in.

    cuman metodenya… dari dulu belum sempat dijawab oleh mas sufimuda, darimana kita yakin dan membuktikan kalau seorang mursyid mempunyai tali keguruan yang sampai pada Rasulullah…
    Apakah untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan seperti ini saya harus masuk thoriqoh dulu???praktek dulu???
    Kalau harus gitu… saya tawar ya mas sufimuda,lewat perantara saja yaitu mas sendiri, tidak perlu masuk thoriqoh dulu, coba tanyakan ke mursyid anda pertanyaan saya.
    Kalau masih belum boleh juga, saya minta alamat email mursyid anda ym,no hp,atau cara lain asalkan bukan telepati…saya tidak bisa, masih level syari’at, masih belajar lagi.
    Kalau mungkin mas sufimuda memilih japri email saya mfaridhm@yahoo.com

    ——————————
    komentar agam assumatrani memang benar, sulit sekali menjangkau ilmu Hakikat kalau masih memakai Ilmu Syariat seperti kejadian Hamzah Fansuri.
    ——————————
    Bagi yang meyakini ada dua ilmu, hakikat dan syariat,tentunya mempunyai penjelasan yang komplek mengenai hubungan antara keduanya, kalau hanya mengatakan syariat tidak bisa atau sulit menjangkau hakikat, apakah syariat ditinggalkan atau di nomor duakan setelah hakikat???.
    Padahal syari’at adalah jalan, petunjuk dari Allah yaitu Al Qur’an dan Hadits
    Saya secara pribadi menganggap, dengan asumsi konsep dua ilmu tersebut benar, hakikat dan syariat tidak mungkin bertentangan,bahkan akan bersinergi, karena semuanya berasal dari Allah yang Maha Bijaksana.

    Terima kasih mas atas jawabannya nanti.

    untuk mas satria
    ————————
    Jujur, Saya tidak memerlukan logika, dalil-dalil telah membuat kepala saya panas, ayat-ayat telah memuat saya penat,…
    ————————
    Padahal dalil-dalil Al Qur’an adalah kalam Allah, dan Hadits adalah dari Rasulullah…
    “Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS An Najm:4).
    dan akal logika adalah anugerah terbesar untuk memahami petunjuk2Nya.

    ————————–
    saya coba tempuh metode 40hari, 100hari, 1000hari, sebagai syarat berjumpa dengan-Nya.
    ————————–
    metode apapun meskipun bersumber dari ilmu yang disebut sebagai ilmu hakikat yang berasal dari mursyid yang diyakini di dalam tubuhnya ada cahaya ilahi…haruslah ditimbang dengan dalil-dalil Al Qur’an dan Hadits.
    Dengan dalil-dalil (petunjuk) itulah kita bisa mempertanggungjawabkan semua amal kita di yaumul hisab nanti.

  29. Assalamualaikum..wr..wb..

    untuk semua saudara/i seiman…..
    ternyata benar apa yg dikatakan orang tua dulu.. semakin banyak kita belajar maka akan semakin bodoh kita….
    untuk itulah belajar itu tidak mengenal tmpat dan wktu…

    akhirnya bnyk hal yg saya belum tau ttg semua ini…
    semoga semua ucapan saudara/i seiman d sufimuda ini dapat menjadi awalan bagi saya untuk lebih banyak berbuat demi Allah ta’ala….

    Wassalam….

  30. ————————————————————————
    Kalau harus gitu… saya tawar ya mas sufimuda,lewat perantara saja yaitu mas sendiri, tidak perlu masuk thoriqoh dulu, coba tanyakan ke mursyid anda pertanyaan saya.
    ————————————————————————-
    wah mas farid benar2 awam tentang ilmu thariqat ya :-)
    atau selama ini salah berwasilah, jangan sembarang cari wasilah mas, masak sufimuda mo diambil wasilah… :-D
    Yang layak dijadikan sebagai wasilah kepada Allah adalah seorang mursyid yang kamil mukamil, sufimuda hanyalah seorang murid aja.

    ——————————————————————–
    Kalau masih belum boleh juga, saya minta alamat email mursyid anda ym,no hp,atau cara lain asalkan bukan telepati…saya tidak bisa, masih level syari’at, masih belajar lagi.
    ———————————————————————
    Mursyid saya ditemukan oleh orang2 yang diberi hidayah oleh Allah SWT, ada yang 30 tahun mencari baru menemukan.
    ada yang bertemu Beliau lewat petunjuk seorang ulama.
    Yang benar aja mas farid mursyid itu bercanda dengan anda lewat email, YM, itu bukan mursyid kali ;-)
    Gak semudah itu
    Hanya Allah SWT yang bisa mengantarkan seorang hamba-Nya kepada kekasih-Nya,
    Silahkan mas farid shalat hajat 2 rakaat dan berdo’a : “Ya Allah, kalau memang benar Mursyid dari sufimuda itu benar disisi-Mu, seorang Auliya yang bisa mendekatkan aku kepada-Mu, sebagai pengemban amanah-Mu maka dekatkanlah aku dengan rahman dan rahim-Mu.
    Tapi, jika Mursyid dari Sufimuda adalah seorang yang sesat dijalan-Mu, maka jauhkanlah aku darinya.
    Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Petunjuk”

    Kalau mas farid punya do’a yang seirama dengan dengan do’a tersebut silahkan, kalau berdoa dalam bahasa Arab monggo.

    Makasih mas farid atas kritik dan sarannya,
    salam

  31. mas sufimuda memelintir pernyataan saya.
    tidak ada pernyataan saya yang menyatakan menjadikan anda wasilah kepada Allah. tapi perantara kepada guru anda, anda bisa berkomunikasi dengan beliau kan? ya sudah.
    masalah YM,email,hp masak seorang mursyid gak bisa, katanya yang ghaib pun bisa tahu, masak YM aja ndak punya, gaptek dong kalau gitu.

    jangan mengkultuskan seseorang meskipun itu seorang mursyid yang bisa berjalan disungai, atau apalah, jelmaan tuhan, dsb.

    ingat dajjal muncul di akhir zaman nanti… mengaku tuhan.

  32. Wah, komentar saya satu bulan lalu ternyata ditentang begitu banyak. Ya sudah, saya terima kritikannya. Saya terima konstruksi paradigma dari Anda2, terutama Saudara T Arif Hidayat Malik. Memang, barangkali saya terlalu cepat memvonis.
    .
    Saya buka komentar baru seputar mursyid. Anggap saja ini sekedar sharing dang silang pendapat. Dan dengan diiringi rasa hormat, saya buka dengan beberapa pertanyaan;
    1. Apakah mendapatkan mursyid adalah suatu keharusan dalam meniti tangga tasawuf?
    2. Apakah benar jika kita menjadi salik namun tanpa mursyid maka yang menjadi mursyidnya adalah syetan?
    3. Apakah saya bisa menemukan Tuhan tanpa bertasawuf?

    Salam,

  33. Salam Kenal Buat Mas Sufimuda.
    Saya angkat Topi dengan anda, sebagai yang muda namun informasi ke ilmuan anda sudah sedemikian banyak….tentunya buat saya pribadi ternyata banyak hal Rahasia Alloh yang tersembunyi.
    All Your Opinion….Sip dan setuju..

    Tak Lupa buat yang komentar baik bertanya maupun menyanggah…saya kira berpulang pda diri kita sendir.
    Anda sadar….ya mohon petunjuk…sama Alloh…
    Alloh itu maha Mendengar…..yang penting anda ihklas dan Hilangkan kebencian……Seperti Seorang Guru Mursyid bilang” Jika engkau Ihklas, Pasti Ada Tuhan di sana”
    Sekian…Terima kasih

  34. ana al-haqq

  35. Maju terusss Mas Sufimuda….sampaikan kebenaran itu walau kau hadapi tembok2 tebal tak betanggung jawab ;)

  36. mas sufimuda,
    saya ingin berjumpa Allah..
    sering saya berdo’a
    “ijinkan aku berjumpa dengan MU,
    agar hilang kerinduanku..”
    tapi..
    saya gak ngerti ayat, gak tau hadist, gak bisa bhs arab,
    apa do’a saya bs terkabul?

  37. saudaraku moonlight…
    untuk jumpa Tuhan itu tidak harus pandai bahasa Arab, yang harus kita penuhi adalah rukun syarat-Nya,
    Carilah seorang Guru Mursyid di thariqat, nanti anda akan mendapat bimbingan, bersabarlah anda bersama Guru Mursyid seperti sabarnya Nabi Musa ketika berguru kepada Nabi Khidir.

    ada orang bersyariat dulu barulah dia bertasauf, kemudian ada orang yang latar belakangnya tidak bisa baca al-qur’an, hadist apalagi bahasa arab kemudian dia bertemu Guru Mursyid langsung belajar thariqat, kemudian nanti baru disempurnakan syariatnya.

    Masuk Thariqat itu adalah proses tobat, jadi tidak bisa ditunda-tunda…

    salam damai selalu

  38. dan
    barang siapa yang sungguh2 mencari pasti akan berjumpa

Leave a Reply