Kisah Nenek Pemungut Daun

Kisah ini di kirim oleh Syrief Nur <syariefkuin@yahoo.co.id> ke milli : muhibbun_naqsybandi@yahoogroups.com, dia membacanya dari sebuah buku dan tidak dicantumkan nama bukunya. Saya tampilkan disini semoga bisa diambil hikmahnya:

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Baca selebihnya »

Ibnu Al-Arabi

Muhyiddin ibnu al-Arabi adalah salah seorang Sufi di Abad pertengahan, kehidupan dan tulisan-tulisannya sekarang banyak mempengaruhi pemikiran di Timur maupun Barat. Oleh masyarakat Arab, ia dikenal sebagai Syeikh al Akbar, ‘Syeikh Agung’, sedang orang-orang Kristen Barat melalui terjemahan langsung mengenalnya; ‘Doktor Maksinius’. Ia wafat pada abad ketigabelas.

Baca selebihnya »

Menag: Indonesia Krisis Ulama, Banyak Terjun ke Dunia Politik

JAKARTA – Ini menjadi peringatan bagi umat Islam di Indonesia. Sebab, saat ini umat muslim di negeri ini sedang mengalami krisis ulama. Peringatan itu disampaikan langsung oleh Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni kemarin (5/4).

Dia menegaskan, masa depan perkembangan agama Islam di negeri ini terancam menurun. ”Ulama-ulama kita semakin habis. Padahal, ulama-ulama inilah penerus nabi. Kita harus bergerak cepat,” tandas Menag dalam sambutannya pada Haul Al Marhumin, Sesepuh dan Warga Pondok Pesantren Buntet, Cirebon.

Baca selebihnya »

Acara “The Master” di Haramkan

Sejumlah pemimpin pondok pesantren di Jawa Timur mengharamkan tayangan The Master yang disiarkan salah satu stasiun televisi swasta.

Fatwa pengharaman acara atraksi yang mirip sulap dan debus tersebut merupakan hasil dari pembahasan masalah atau bahtsul masail yang digelar di Pondok Pesantren Abu Dzarrin di Kendal, Kecamatan Dander, Bojonegoro.
Bahtsul masail itu sengaja digelar untuk menyikapi tayangan The Master yang digandrungi oleh sebagian besar pemirsa televisi Indonesia. Acara yang pada sesi terakhirnya menampilkan adu ketangkasan antara Master Joe Sandi dan Master Limbad itu dianggap menyesatkan karena menampilkan atraksi-atraksi di luar taraf kekuatan manusia biasa.

Baca selebihnya »

Di Zawiyah Sebuah Mesjid

Oleh : Emha Ainun Nadjib

Sesudah shalat malam bersama, beberapa santri yang besok pagi diperkenankan pulang kembali ke tengah masyarakatnya, dikumpulkan oleh Pak Kiai di zawiyyah sebuah masjid.

Seperti biasanya, Pak Kiai bukannya hendak memberi bekal terakhir, melainkan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan khusus, yang sebisa mungkin belum usah terdengar dulu oleh para santri lain yang masih belajar di pesantren.

Baca selebihnya »

Abdal

Oleh : Jalaluddin Rakhmat

Dalam kafilah ruhani yang berjalan menuju Tuhan, kita melihat barisan yang panjang. Mereka yang berada dalam barisan mempunyai martabat yang bermacam-macam, bergantung pada sejauh mana mereka telah berjalan. Dari tempat berangkat ke tujuan, ada sejumlah stasiun yang harus mereka lewati. Derajat mereka juga bergantung pada banyaknya stasiun yang sudah mereka singgahi. Pada setiap stasiun selalu ada pengalaman baru, keadaan baru, dan pemandangan baru. angat sulit menceritakan pengalaman pada stasiun tertentu kepada mereka yang belum mencapai stasiun itu.

Baca selebihnya »

Dua Keinginan

Oleh : Khalil Gibran

Di keheningan malam, Sang Maut turun dari hadirat Tuhan menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya. Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan sang lelap.

Ketika rembulan tersungkur kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam legam, Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di tengah pemukiman — berhati-hati tidak menyentuh apapun — sampai tiba di sebuah istana. Dia masuk dan tak seorang pun kuasa menghalangi. Dia tegak di sisi sebuah ranjang dan menyentuh pelupuk matanya, dan orang yang tidur itu bangun dengan ketakutan.

Baca selebihnya »

Jemaah Ahmadiyah Tobat Masal di Monas

Taubat yang dilakukan oleh jemaah Ahmadiyah ini tergolong menarik sehingga mengundang perhatian orang banyak karena disamping dilakukan secara massal juga di tempat terbuka di lapangan Monas. Biasanya orang bertaubat itu di Mesjid, Rumah Allah, tempat yang suci sebagai symbol kembalinya sang pendosa dari kotor menjadi bersih, dari keliru menjadi benar. Tapi kenapa FPI cs membawa jamaah Ahmadiyah bertaubat di lapangan Monas, apakah ini benar-benar taubat atau hanya sekedar “sandiwara” layaknya sinetron religi yang sering kita tonton di TV, apakah FPI sebagai “pembimbing” ahmadiyah melakukannya pembinaan dengan ikhlas atau hanya sekedar ingin menunjukkan “power” atas tragedi di monas 1 juni 2008. Coba kita baca berita lengkapnya berikut ini: Baca selebihnya »

Sebuah Teladan

Oleh : Jalaluddin Rakhmat

Ini adalah sebuah kisah tentang kepemimpinan Ali ibn Abi Thalib dalam Khulafaurrasyidin yang sangat patut kita teladani.

Tidak ada khalifah yang paling mencintai ukhuwwah, ketika orang berusaha menghancurkannya, seperti Ali ibn Abi Thalib. Baru saja dia memegang tampuk pemerintahan, beberapa orang tokoh sahabat melakukan pemberontakan. Dua orang di antara pemimpin Muhajirin meminta izin untuk melakukan umrah. Ternyata mereka kemudian bergabung dengan pasukan pembangkang. Walaupun menurut hukum Islam pembangkang harus diperangi, Ali memilih pendekatan persuasif. Dia mengirim beberapa orang utusan untuk menyadarkan mereka. Beberapa pucuk surat dikirimkan. Namun, seluruh upaya ini gagal. Jumlah pasukan pemberontak semakin membengkak. Mereka bergerak menuju Basra.

Baca selebihnya »

Syahadat Saridin

Oleh : Ehma Ainun Najib

Waktu yang diminta oleh Saridin untuk mempersiapkan diri telah dipenuhi. Dan kini ia harus membuktikan diri. Semua santri, tentu saja juga Sunan Kudus, berkumpul di halaman masjid.

Dalam hati para santri sebenarnya Saridin setengah diremehkan. Tapi setengah yang lain memendam kekhawatiran dan rasa penasaran jangan-jangan Saridin ternyata memang hebat.

Sebenarnya soalnya di sekitar suara, kefasihan dan kemampuan berlagu. Kaum santri berlomba-lomba melaksanakan anjuran Allah, Zayyinul Qur’an ana biashwatikum – hiasilah Qur’an dengan suaramu.

Membaca syahadat pun mesti seindah mungkin.

Di pesantren Sunan Kudus, hal ini termasuk diprioritaskan. Soalnya, ini manusia Jawa Tengah: lidah mereka Jawa medhok dan susah dibongkar. Kalau orang Jawa Timur lebih luwes. Terutama orang Madura atau Bugis, kalau menyesuaikan diri dengan lafal Qur’an, lidah mereka lincah banget.

Lha, siapa tahu Saridin ini malah melagukan syahadat dengan laras slendro atau pelog Jawa.

Baca selebihnya »