Surat Untuk Sahabat

Sahabatku…

Saat aku tulis surat ini suasana hatiku sudah sedikit lega karena masalah-masalah yang selama ini menimpaku pelan-pelan telah diselesaikan dengan baik dan bijaksana oleh Tuhan Yang Maha Baik. Masalah ini bisa selesai tidak terlepas dari doa yang selalu engkau panjatkan kepada Tuhan dan aku sangat yakin engkau selalu memberikan doa untukku, aku minta atau tidak pasti engkau mendoakanku karena engkau adalah sahabatku dan aku selalu merasakan getaran doa yang engkau kirimkan dari dulu sampai sekarang.

Baca selebihnya »

Menarik Rambut Dalam Tepung

Seorang Guru Sufi mengatakan, “Selesaikan segala masalah dengan bijaksana, ibarat menarik rambut dalam tepung, rambut di tarik namuan tepung tidak retak”. Perumpamaan sederhana namun mengandung makna yang dalam dan kita seringkali melupakan hal-hal yang sederhana.

Setiap manusia pasti mengalami masalah baik besar maupun kecil sebagai sesuatu yang wajar dan sempurna dialami oleh setiap orang. Kita tidak membicarakan masalah yang setiap hari datang, namun kita membicarakan bagaimana menyelesaikan setiap masalah yang kita hadapi dengan cara bijaksana. Tidak mungkin masalah bisa diselesaikan dalam keadaan emosi tidak stabil. Ada sebuah nasehat bijaksana, “Jangan pernah mengambil keputusan disaat anda sedang marah”. Kenapa? Karena keputusan yang keluar pada saat marah atau emosi tidak stabil biasanya cenderung tidak bijaksana dan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Baca selebihnya »

Masa Lalu…

Ada sebuah ungkapan, “Masa lalu adalah kenangan, masa sekarang kenyataan dan masa depan adalah harapan”. Kita semua punya kenangan masa lalu, apakah baik atau buruk dan itu mempengaruhi keadaan kita saat ini. Apa yang kita alami di masa lalu akan berbekas dan tertanam di alam bawah sadar dan karena tersimpan di alam bawah sadar tanpa kita sadari terbawa sampai sekarang.

Baca selebihnya »

Khilaf…

Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan baik disengaja ataupun tidak karena memang sifat alamiah manusia itu pada dasarnya penuh kekurangan sehingga tidak menutup kemungkinan melakukan kekeliruan. Agama diturunkan Tuhan untuk menuntun dan mengarahkan manusia agar kesalahannya menjadi minimal.

Baca selebihnya »

Menemui Allah

“Hai manusia, sesungguhnya engkau harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menemui Tuhan-mu, sampai engkau bertemu dengan-Nya” (QS Al Insyqaq 84 : 6)

Berjumpa dengan Tuhan adalah dambaan setiap manusia dan itu merupakan impian tertinggi yang selalu dicita-citakan oleh semua orang. Ketika berbicara tentang “Berjumpa dengan Tuhan” maka yang terbayang pada semua orang adalah Kematian, Setelah manusia meninggal dunia (nafas berhenti) barulah ada peluang berjumpa dengan Tuhannya. Berjumpa dengan Tuhan setelah kematian itu sifatnya spekulatif, (bisa ya bisa juga tidak) lalu bagaimana kalau setelah meninggal kita tidak pernah berjumpa dengan Tuhan?

Baca selebihnya »

Seputar Akidah Sufi Terhadap Rasulullah

Diantara persoalan yang digugat oleh mereka yang anti Tasawuf adalah mengenai akidah kaum Sufi terhadap Rasulullah SAW. Mereka menuduh kaum Sufi bahwa, kaum Sufi berpandangan kalau Rasulullah tidak mencapai martabat dan kondisi para Sufi.

Rasulullah tidak mengetahui ilmu-ilmu para Sufi, sebagaimana ungkapan Abu Yazid al-Busthamy, “Kami menyelami Lautan yang para Nabi sudah berhenti di pantainya…”.

Baca selebihnya »

Jawaban Akidah Sufi Tentang Allah (2)

Sementara kaum yang anti Thariqat Sufi merasa telah bercermin dengan benar, padahal mereka tidak mengetahui jika cermin yang digunakan itu adalah cermin yang buram, retak, dan cara bercermin yang keliru. Ketika mereka menuding orang lain, sesusungguhnya mereka sedang menuding diri sendiri.

Kata-kata yang muncul dari para Sufi sesungguhnya harus difahami menurut konsumsi Bathiniyah dari kandung Al-Qur’an dan Sunnah. Misalnya ketika seseorang mempraktekkan Ihsan, “Seakan-akan engkau melihat Allah, dan jika tidak melihatNya, Allah melihatmU,” pastilah menimbulkan pantulan cahaya Ubudiyah yang agung dengan sesuai dengan kondisi psikholohis ruhani masing-masinghamba Allah. Pantulan cahaya Ilahi inilah yang tidak bisa difahami oleh orang yang tidak pernah megalami perjalaan ruhani ke-Imanan dan ke-Ihsanan.

Baca selebihnya »

Jawaban Atas Akidah Sufi Tentang Allah

Mereka menuding akidah Sufi berbeda dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bahkan menuding lebih jauh, kalau Akidah sufi kolaboratif dengan pandangan Filsafat Ilmuniasi Yunani, Majusi Persia, Hinduisme dan Nasrani.

Tentu tudingan bahwa sumber Tasawuf adalah singkretisme ajaran agama-agama dan filsafat Yunani adalah kekeliruan besar. Bahwa dalam dunia tasawuf ada hikmah-hikmah agung dan mengandung filsafat kehidupan yang luhur, sesungguhnya tidak bias dihubungkan-hubungkan dengan tradisi filsafat tersebut secara menyeluruh.

Baca selebihnya »

Akidah Sufi dituduh Menyimpang dari Al Qur’an dan Sunnah

Redaksi Sufi menurunkan pledoinya atas kontroversi yang selama ini dituduhkan oleh para pemikir Muslim yang anti Tasawuf. Sejak zaman munculnya dunia Sufi dalam peradaban ilmu pengetahuan banyak kalangan yang menuding Tasawuf sebagai aktivitas yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Termasuk para pemikir dewasa ini, khususnya Abdurrahman Abdul Khaliq dalam bukunya Al-Fikrus Shufi, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul, “Penyimpangan-Penyimpangan Tasawuf.” Buku ini tersebut sangat mendeskriditkan Tasawuf degan penuh emosional dan antipati, dan berpengaruh terhadap gerakan Islam radikal di berbagai negara Islam termasuk di Indonesia.

Baca selebihnya »

Nikmatnya Celaan

Ingin saya menulis tentang kehidupan beberapa tokoh sufi yang kaya raya sebagai kelanjutan dari Dunia Sufi Yang Misteri (Bagian 2), namun malam ini, malam jum’at yang penuh rahmat hati saya tergerak untuk menulis tentang hal lain, tentang sebuah Maqam yang harus dilewati oleh para penempuh jalan kebenaran, maqam yang tidak meng-enakkan yaitu Maqam Celaan. Jarang sekali ada pembahasan tentang maqam celaan walaupun hampir semua kita yang menekuni tarekat, berguru, pernah mengalami hal seperti itu. Saya menemukan ulasan lengkap tentang maqam celaan dalam sebuah kitab Tasawuf Klasik yang berjudul Kasyful Mahjub karya Al-Hujwiri.

Baca selebihnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 111 pengikut lainnya.